Feed on
Tulisan
Komentar

Profesi guru memang merupakan profesi yang cukup sibuk. Para guru yang juga sering disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tersebut, sehari-harinya berangkat pagi ke sekolah dan hampir sepanjang hari di sekolah mendidik para siswanya. Pulang dari sekolah, sampai di rumah biasanya sudah sore.

 

Lantas jika guru sehari-harinya sibuk mengajar di kelas, apakah masih ada waktu untuk menulis ? Demikian pertanyaan dari salah seorang guru, yang mengikuti LOKAKARYA NASIONAL STRATEGI PENULISAN KARYA ILMIAH, di Aula Utama Gedung A-3 Kampus Universitas Negeri Malang, Minggu, 8 Juni 2008.

 

Pemateri yang tampil dalam Lokakarya tersebut ada 2, yakni Drs Mulyadi Guntur Waseso (Dosen Senior Universitas Negeri Malang dan Praktisi Penulisan Karya Ilmiah), serta Drs Muhammad Zen (Penulis Buku “Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru” dan Jurnalis Televisi Nasional). Bertindak sebagai Moderator: Noordin Djihad (Pemimpin Redaksi Koran Pendidikan), serta MC Soly Anwar (Penyiar Radio Andalus).

 

Lokakarya tersebut diikuti sekitar 125 orang peserta, mayoritas para guru mulai Guru TK, Guru SD, Guru SMP, Guru SMA dan Guru SMK. Namun guru dari kalangan sekolah di bawah naungan Depag semisal MI atau MTs juga banyak yang ikut. Mereka datang dari berbagai daerah di tanah air. Selain dari Malang Raya, peserta juga datang dari Tuban, Kediri, Blitar, Nganjuk, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto, bahkan ada yang datang dari Papua atau Irian Jaya.

 

Dengan penuh semangat, ratusan  guru ini mengikuti lokakarya. Mereka tampaknya demikian antusias untuk belajar bagaimana strategi menulis, agar bisa menjadi penulis berkualitas. Puluhan pertanyaan bermunculan dalam sesi diskusi, termasuk pertanyaan dari seorang guru, yang mengatakan bagaimana agar guru tetap bisa menulis meski sehari-harinya sibuk mengajar.

 

Ingin tahu bagaimana strategi tetap bisa menulis produktif meski kondisi kita amat sibuk ? Simak Tulisan saya selanjutnya.     

 

Guru merupakan salah satu profesi yang  memungkinkan untuk menjadi penulis yang produktif dan berkualitas. Sebab di kancah pendidikan, seorang guru bisa mengulas apa saja, bisa menulis apa saja terkait dengan problematika yang dihadapi.

 

Beragam masalah yang muncul di kancah pendidikan, sebetulnya amat menarik dituangkan dalam tulisan. Figur guru merupakan orang yang paling berkompeten, menulis beragam masalah yang mencuat di kancah pendidikan tersebut.

 

Namun mengapa saat ini jumlah guru yang berprofesi sebagai penulis tidak banyak ? Mengapa hanya sedikit guru yang mampu menjadi seorang penulis yang handal ? Mengapa tidak banyak guru yang bisa menulis produktif sekaligus berkualitas ?

 

Bisa jadi masalahnya hanya karena kurang mengerti strategi yang tepat menjadi penulis produktif. Para guru tidak banyak yang tahu bagaimana strategi yang pas, agar bisa menghasilkan tulisan yang banyak dan kualitasnya baik.

 

Karena itulah, kami dari Cakrawala Media Publisher bekerjasama dengan Harian Surya, Koran Pendidikan dan Jurusan Bimbingan Konseling Psikologi (BKP) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, akan menggelar seminar nasional terkait strategi menulis karya ilmiah untuk para guru. Adapun pengumuman Lokakarya tersebut adalah sebagai berikut:

 

LOKAKARYA NASIONAL

STRATEGI PENULISAN KARYA ILMIAH UNTUK GURU

 

Pemateri:

1. Drs. Mulyadi Guntur Waseso

    Dosen Senior Universitas Negeri Malang

    Pakar & Praktisi Penulisan Karya Ilmiah

 

2. Drs. Muhammad Zen

    Penulis Buku “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”

    Jurnalis Televisi Nasional

 

 

Tempat: Aula  Gedung  A-3

Kampus Universitas Negeri Malang

Jl. Surabaya 6 Malang

 

Minggu, 8 Juni 2008

Pukul  08.00 hingga selesai

 

Biaya Pendaftaran:

Rp 125.000

 

Peserta memperoleh:

-Makan Siang

-Snack

-Makalah

-Sertifikat

-Bonus Buku: Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru

  (Senilai Rp 25.000)

-Bonus Konsultasi Gratis Tentang Strategi Menulis, pasca Lokakarya hingga mahir, tanpa batas waktu.

 

*Doorprize puluhan hadiah menarik dari Harian Surya, Koran Pendidikan, Radio Andalus dan sponsor lain

 

Pendaftaran:

1.  Sekretariat Panitia: Perumahan  Bunul Asri Blok B  nomor  17 Malang

     Telepon  0341-472588  Fleksi:   0341-9121088  

2. Radio Andalus, Tlogomas  Malang       

3. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi  (BKP ) Fakultas Ilmu

     Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Jalan Surabaya 6 Malang

     Telepon: 588 099

4. Koran Pendidikan Jalan Bogor nomor 44 Malang

     Telepon : 563064

 

 

 

 

“Sikap Nekat” penulis yang menerbitkan buku sendiri, alias self publishing, memang selalu memantulkan kisah menarik. Banyak hal yang bisa diceritakan, dan kisah jadi penerbit ini tentu saja merupakan hal baru bagi seorang penulis.

Setelah naskah siap cetak, maka memilih percetakan bukan hal yang sulit. Sebagai penerbit, kita bisa memilih percetakan yang sesuai. Dalam arti sesuai antara harga dan kualitas. Saat berhubungan dengan pihak percetakan, maka yang perlu kita bicarakan adalah masalah kertas cover (kualitas kertas dan berapa gram), juga kertas di halaman dalam pakai berapa gram. Ukuran buku juga perlu dibicarakan detail.

Usai buku dicetak, yang memakan energi seringkali yakni berburu Distributor buku yang bagus. Alamat distributor buku ini bisa kita peroleh dari buku (sejumlah buku kadang mencantumkan alamat dan tlp distributornya). Alamat distributor buku ini juga bisa diperoleh dari pencarian via internet, dengan memasukkan kata kunci “distributor buku”.

Untuk buku saya berjudul: KIAT SUKSES MENGIKUTI SERTIFIKASI GURU, saya percayakan ke Distributor di Surabaya. Peredaran lewat distributor ini untuk menjangkau toko buku di berbagai daerah di tanah air. Namun karena buku tersebut banyak dibutuhkan para guru, sejumlah Kantor Dinas Pendidikan dari berbagai daerah, minta dikirim langsung. Bahkan belakangan ini banyak panitia Seminar Guru / Panitia Seminar Sertifikasi, yang langsung kontak ke HP saya ( 08123383495 ) yang minta dikirim buku dalam jumlah banyak dan biasanya saya kasih diskon spesial.

Semua itu mengasyikkan, karena kita yang semula jadi penulis jadi tahu liku-liku jaringan peredaran buku. Yang lebih penting, jika self publishing maka keuntungan kita jauh lebih banyak. Bayangkan, jika naskah kita diterbitkan pihak lain, sekali cetak untung Rp 12,5 juta, maka porsi penulis hanya Rp 2,5 juta dan porsi penerbit Rp 10 juta. Namun jika self publishing, maka Rp 12,5 juta tersebut jadi milik kita.

Adakah sisi negatifnya ? Ternyata ada. Karena terlalu asyik mengurusi jaringan distribusi, kadang kita jadi “kurang produktif menulis” untuk sementara waktu. Ini wajar dan merupakan resiko seorang penulis yang “self publishing”.

Menerbitkan buku sendiri alias “Self Publishing” ternyata memiliki beragam sisi positif dan negatif.  Bagi seorang penulis, kiprah menerbitkan buku karyanya sendiri, memunculkan sederet sisi positif. Sisi positif self publishing ini amat banyak, sehingga mungkin tidak cukup jika hanya dibahas dalam satu kali tulisan.

 

Di antara sisi positif tersebut, yakni dengan Self Publishing seorang penulis akan mampu jadi manajer bagi peredaran buku yang ditulisnya sendiri. Lain lagi jika tulisan kita tersebut diterbitkan oleh penerbit lain, maka yang menghandel marketing, distribusi dll adalah pihak penerbit tersebut. Namun jika kita lakukan Self Publishing maka semua itu kita sendiri (atau orang-orang kita) yang menangani.

 

Mulai dari urusan nomor ISBN, mengurus tata letak buku, mencetak buku, hingga distribusi dan pemasaran buku, kita sendirilah yang mengurus. Namun dalam hal ini bukan berarti kita harus menangani sendiri, tetapi bisa juga kita percayakan ke orang-orang yang sudah ahli, namun tetap di bawah kendali kita.

 

Dalam kaitannya dengan  mengurus ISBN misalnya, kita bisa menangani secara langsung. Jika mau mengurus secara langsung, maka mengurusnya di Kantor Perpustakaan Nasional Pusat, di Jalan Salemba Raya Jakarta. Ongkosnya tidak mahal yakni hanya Rp 60.000 per-buku (termasuk barcode). Meski ongkos tidak mahal, namun bagi penulis di daerah maka ongkos dari daerah ke Jakarta yang jauh lebih mahal.

 

Karena itulah, untuk penetbitan yang saya kelola, pengurusan ISBN saya percayakan ke seorang teman yang tinggal di Jakarta. Masalah kompensasi dana atau uang lelah, bisa kita rundingkan secara kekeluargaan. Yang penting kita bisa lancar memperoleh ISBN. Strategi  ini menurut saya lebih efektif, dibanding kita mengurus sendiri ke Jakarta, yang tentu butuh biaya transportasi lebih besar (untuk mengurus ISBN biasanya saya mengurus 3 buku sekaligus, agar lebih efektif).

     

Masalah tata letak buku atau desain sampul buku kita ? bisa juga kita percayakan ke orang lain. Misalnya kita bisa minta tolong ke pegawai bagian tata letak koran lokal di kota kita. Pegawai ini biasanya profesional sebab sehari-harinya memang mengurusi tata letak. (bersambung)

   

Menulis memang banyak sekali tantangan dan hambatannya. Banyak orang yang berniat menulis, bisa menulis artikel, novel atau menulis buku non fiksi, namun hanya sebagian yang mampu merealisasikannya jadi tulisan.

Sebagian orang hanya berniat dan berniat saja menulis, namun belum juga tergerak untuk merealisasikan menulis. Mereka kadang beralasan besok sajalah, sekarang masih repot, masih sibuk. Besuk saja saya akan membuat tulisan terbaik, yang akan bisa best seller dan mampu mengalahkan tulisan penulis lain. Namun esok hari juga beralasan “besuk saja” sehingga tulisan tak kunjung jadi.

Repot atau kesibukan, apapun bentuknya, seringkali menjadi alasan paling masuk akal bagi kita untuk menunda menulis. Namun jika ini dituruti, kemungkinan yang terjadi yakni tulisan kita tak akan selesai, dan sampai kapanpun rencana menulis tersebut tidak akan jadi kenyataan.

Ironisnya, jika mengobrol dengan teman atau dengan keluarga (atau dengan siapa saja), kita selalu bisa. Ngobrol selalu ada waktu. Sesibuk apapun kita, biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Nah pertanyaan kritis bagi diri sendiri perlu kita lontarkan, jika menulis sering ditunda (dengan alasan sibuk atau repot), mengapa jika ngobrol selalu bisa ? Tanpa sadar kita kadang ngobrol ngalor ngidul berlama-lama, mengapa waktu untuk ngobrol itu tidak dipakai untuk menulis ?

Ok, yuk kita sama-sama produktif menulis, kurangi ngobrol dan kita arahkan energi kita untuk tulisan. Ok Sukses Selalu

   

Yang namanya tanggal tua, rata-rata orang (termasuk saya) sering mengalami krisis finansial. Mau belanja ini itu, termasuk belanja buku harus dihemat. Sebab masih banyak keperluan lain yang mendesak dan harus lebih diprioritaskan.

Di saat kondisi seperti itu, saya membuka www.webersis.com dan tiba-tiba mendapat info bahwa uang hadiah menang lomba, sebagai Juara I lomba menulis “Pengalaman Sebagai Penulis” sudah ditransfer ke rekening bank. Lomba itu diselenggarakan oleh www.webersis.com dan www.menulismudah.com.

Besuknya saat sudah sore hari, saya coba mampir ke ATM BCA. Syukur Alhamdulillah ternyata kiriman hadiah memang sudah sampai. Hadiah tersebut sebesar Rp 1 Juta, dikurangi pajak 15 % sehingga bersih yang saya terima Rp 850.000.

Mengapa baru besuk sorenya ke ATM ? Karena belakangan ini super sibuk, selain karena lagi banyak berburu berita bagus untuk konsumsi TV, juga lagi “berburu” distributor buku yang memiliki jaringan luas, untuk memasarkan buku saya yg self publishing. Kisah berburu distributor buku cukup unik, awalnya agak sulit, tapi begitu dapat justru 2 distributor (dua-duanya memiliki jaringan bagus dan skalanya amat luas). Satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya, akhirnya saya pilih yg di Surabaya. Tapi nanti ya saya ceritakan lengkap.

Ok, datangnya hadiah uang menang lomba menulis tersebut, amat bernilai dan patut saya syukuri. Lebih lagi di tanggal super tua. Alhamdulillah, semoga membawa barokah. Amin….      

      Terjun di kancah Self Publishing alias menerbitkan buku karya sendiri, bisa dibilang gampang-gampang susah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, dan juga tergantung bagaimana kita menempuh strategi pemasaran buku tersebut.        

       Terkait strategi pemasaran buku, saya menemukan fakta baru bahwa ternyata pemasaran buku bisa dibagi dua. Yang pertama yakni pemasaran ala konvensional atau pemasaran “model biasa” alias “pemasaran gaya ningrat”. Kemudian pemasaran model kedua yakni pemasaran ala “perang gerilya” alias pemasaran ala koboi.        

       Pemasaran konvensional atau pemasaran model biasa (model yang lazim) yakni selesai buku dicetak, pihak penerbit menyalurkan pemasaran bukunya via distributor buku. Pihak distributor buku yang akan mendistribusikan buku tersebut ke berbagai toko buku di tanah air, dan pihak penerbit tinggal menunggu laporan bulanan serta pencairan dana dari pihak distributor.        

       Model pemasaran ini saya katakana pemasaran biasa, karena memang kebanyakan penerbit kecil (self publishing) melakukan hal ini. Model pemasaran ini juga saya sebut “pemasaran bergaya ningrat” karena peta marketing diserahkan sepenuhnya ke distributor, lantas pihak pengelola penerbitan tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu laporan distributor.        

       Adakah yang salah dengan model ini ? Tidak ada yang salah. Namun untuk cetakan pertama buku saya yang berjudul: “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”, model pemasaran ala ningrat ini belum saya lakukan. Mengapa demikian ? Karena perputaran dananya akan sangat lambat, bisa jadi lebih dari 3 bulan atau bahkan setengah tahun baru ada kucuran dana dari distributor.        

       Karena itulah saya lantas menempuh pemasaran cara kedua: yakni pemasaran ala koboi atau pemasaran ala “perang gerilya”. Model pemasaran ini kita dituntut aktif untuk memasarkan sendiri (atau via orang-orang kita) ke konsumen langsung atau ke instansi yang terkait dengan materi yang kita tulis dalam buku.        

      

       Karena buku tersebut berisi “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”, maka konsumennya tentu saja guru dan instansi yang terkait yakni Dikbud atau Dinas Pendidikan di berbagai daerah. Syukur alhamdulillah, strategi pemasaran langsung ke guru atau via Dinas Pendidikan ini, ternyata cukup bagus. Buktinya, belum sebulan buku tersebut beredar, stok buku tinggal sedikit (cetakan pertama 2.000 eks). Dari hasil pembelian kontan pihak guru / instansi Dinas Pendidikan,  uang yang masuk jumlahnya sudah lumayan sehingga bisa untuk segera cetak ulang.        

      

       Cetakan kedua 16 Februari kemarin sudah selesai (juga cetak 2.000), sehingga kini stok buku jumlahnya lumayan. Baru setelah cetakan kedua ini selesai, rencana pemasaran menggunakan 2 strategi. Yakni pemasaran ala “perang gerilya” tetap jalan, tapi mulai menginjak ke pemasaran “gaya ningrat” alias lewat distributor buku.       

       Capek memang, tapi asyyiiiik. Alhamdulillah       

      Ada pengalaman yang menarik, saat saya terjun pertama kali di kancah penerbitan, dengan menerbitkan buku karya sendiri alias “self publishing”. Buku tersebut berjudul: “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”, yang memang diperuntukkan bagi guru-guru yang sedang bersiap mengikuti program sertifikasi.        Buku yang naik cetak pada akhir Desember 2007 yang lalu itu, memiliki kisah yang agak unik. Buku tersebut merupakan karya kedua saya, namun pengalaman pertama bagi saya di “self publishing”.       

       Sebelum menentukan percetakan mana yang diberi order, saya sempat survey sekitar 5 percetakan, semua di kawasan Kota Malang. Dari sejumlah percetakan tersebut, harga atau biaya cetak buku yang ditawarkan amat bervariasi.       

       Variasi harga cetak buku ini, terkait dengan berapa eksemplar buku tersebut dicetak, ukuran buku gimana, kertas ukuran berapa gram dan beragam tetek mbengek yang lain. Termasuk di halaman dalam ada gambar atau tidak, jika ada gambar maka gambar tersebut warna atau tidak dll.       

       Singkat kata, buku yang saya terbitkan yakni memiliki spesifikasi: ukuran 19 cm x 12,5 cm, tebal 144 halaman, kertas dalam 80 gram, cover full color dan halaman dalam tidak ada foto.        

       Dari spesifikasi tersebut, harga cetak buku yang ditawarkan amat timpang. Jika buku tersebut dicetak 500 eksemplar maka biaya cetaknya relatif tinggi yakni Rp 8.500 per-eks. Jika dicetak 1.000 eksemplar harganya Rp 6.000 per-eks. Namun jika dicetak 2.000 eksemplar atau lebih, maka harga cetaknya menurun hingga tinggal Rp 4.500 per-eks.       

       Mengapa demikian ? Hal ini karena saat cetakan pertama, harus menanggung biaya plat atau biaya master cetak.       

       Karena itu akhirnya saya pilih cetak 2.000 eksemplar, namun kini sudah hampir habis. Pekan lalu saya cetak ulang (cetakan kedua), dan Sabtu siang tadi sudah selesai. Alhamdulillah, mohon doa restu, semoga cetakan kedua ini bisa laris maniiiiss. 

          

Sejak akhir Desember tahun 2007 yang lalu, saya berusaha mendirikan penerbitan buku. Penerbitan buku dengan pola “self publishing” tersebut, saya beri nama: Cakrawala Media Publisher.

Terkait nama penerbitan, semula mau pakai nama: Cakrawala Publishing. Namun ternyata nama tersebut sudah dipakai oleh penerbitan lain. Agar tidak kembar, maka muncullah nama: Cakrawala Media Publisher.

Munculnya penerbitan ini, bisa dikatakan bermodal nekat. Meski bermodal nekat, namun sebelumnya saya juga tetap belajar bagaimana liku-liku penerbitan buku. Ada 2 hal yang saya tempuh saat belajar berbagai hal terkait penerbitan buku.

1. Saya belajar lewat teori cara-cara menerbitkan buku, yang telah ditulis sejumlah orang yang sudah berpengalaman. Untuk bisa belajar, tentu saja harus mengeluarkan biaya. Namun tidak banyak. Tercatat saya menghabiskan dana Rp 150.000 untuk membeli e-book, yang dijajakan via internet. Yang pertama yakni e-book karya Abu Al-ghifari alias Toha Nasrudin yang telah pengalaman mengelola Mujahid Press (harga e-book sekitar Rp 100.000). Yang kedua yakni e-book karya Mas Jonru, pendiri penulis.lepas com (harga sekitar Rp.50.000)

2. Meski sudah belajar teori, namun saya masih harus survei lapangan. Tujuannya agar teori yang ada di e-book, bisa sinkron dengan kenyataan di lapangan. Sejumlah pihak saya datangi, baik kalangan toko buku maupun penerbitan yang sudah jalan. Saya tidak sulit untuk menembus komunitas toko buku dan penerbit, karena latar belakang saya jurnalis. Saya akhirnya tahu jalur-jalur distribusi buku, termasuk prosentase alias jatah komisi bagi distributor buku.    

Setelah ada sinkronisasi antara teori dan praktek lapangan lewat survei, akhirnya saya memberanikan diri menerbitkan buku karya saya sendiri.

Buku tersebut saya beri  judul: Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU.  Syukur alhamdulillah reaksi pasar, khususnya pemasaran di kalangan guru, cukup bagus.

Untuk cetakan pertama, stok yang ada sudah hampir habis. Saat ini sedang proses cetak ulang (cetakan kedua), insya Allah selesai Sabtu depan.

Bagaimana strategi menembus pasar perbukuan ? Berapa modal yang dibutuhkan ? Ikuti tulisan saya berikutnya. (Maaf sampai sini dulu, krn ada liputan menarik)

                      

    

Sejumlah rekan penasaran dengan tulisan saya yang terpilih sebagai Juara I lomba menulis “Tentang Pengalaman Menulis”, yang diadakan www.menulismudah.com dan www.webersis.com . Agar tidak lagi penasaran, berikut ini saya kutipkan naskah tulisan saya tersebut.  

Naskah ini sebetulnya sudah dimuat di 2 website tersebut, sejak akhir Desember lalu. Namun pengumuman juara sekitar tgl 6 atau 7 Februari kemarin. Berikut kutipan naskah selengkapnya:

   

Menulis Untuk Biaya Kuliah

MENULIS merupakan satu kata yang amat bermakna dalam kehidupan saya. Dengan berkiprah di kancah tulis menulis, kehidupan yang saya jalani bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Mengapa demikian? Gara-gara menulis, kondisi kehidupan saya yang berasal dari keluarga miskin, mampu terkatrol fantastik sehingga sukses kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri karismatik di tanah air.

Saya lahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, di Desa Sinanggul, Jepara Jawa Tengah. Usai menamatkan SLTA saya dengan “bondo nekat” memberanikan diri mendaftar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat itu tahun 1980 seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN menggunakan istilah Proyek Perintis, UGM Yogyakarta masuk Proyek Perintis I (semacam SPMB saat ini). Alhamdulillah diterima menjadi mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.

Satu semester berlalu, kondisi keuangan keluarga amat menipis. Maklum ayah seorang Modin di desa dengan penghasilan yang relatif pas-pasan. Menginjak semester dua, lebih memprihatinkan, kelangsungan kuliah terancam putus. Dilema menghadang: saya harus kerja untuk menyambung hidup di Yogyakarta atau meneruskan kuliah.
 
Saya berniat melamar jadi pegawai Pom Bensin (SPBU) di kawasan Terban Taman. Lantas mencari informasi di mana rumah pemilik SPBU tersebut. Dengan tekad yang membaja, mendatangi rumahnya. Di trotoar depan rumah pemilik SPBU tersebut pikiran berkecamuk. Jika jadi pegawai SPBU dan sibuk bekerja, lantas bagaimana kuliah? Jika tidak bekerja, bagaimana membiayai hidup di rantau? Niat tersebutsaya urungkan.
     
Esok paginya, di Harian Kedaulatan Rakyat,  terpampang artikel tentang Pancasila yang ditulis seorang kolumnis. Isinya jauh berbeda dengan pemahaman saya, nurani saya berontak. Sang kolumnis, mengkritisi kondisi budaya dan Pancasila secara sepihak. Saya menulis artikel tandingan, dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran baru terkait Pancasila dan kondisi budaya Indonesia. Saya bisa menulis artikel Pancasila dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan populer, karena kuliah saya di Fakultas Filsafat memang banyak menyoroti tentang Filsafat Pancasila.
 
Tanpa diduga, berselang satu hari, artikel saya tulis tersebut dimuat Kedaulatan Rakyat. Artikel tersebut merupakan momentum yang sangat penting dalam hidup saya. Ada tiga hal yang bisa saya catat.
 
Pertama, tanggapan dari rekan-rekan mahasiswa dan dosen di kampus, luar biasa. Mereka menyambut antusias. Lebih lagi, saya merupakan satu-satunya mahasiswa junior mampu menembus koran. Para dosen juga sangat setuju dengan dengan ide-ide saya terkait dengan budaya nasional dalam kaitannya dengan pengembangan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
 
Kedua, secara pribadi sangat puas, memperoleh honor Rp7.500. Sungguh jumlah luar biasa. Harga nasi sepiring di Yogyakarta, khususnya di kalangan mahasiswa kos-kosan sangat murah, sekitar seratus rupiah sepiring (sudah termasuk lauk ala kadarnya).
    
Dengan demikian honor satu artikel sebanding dengan 75 piring nasi. Artikel tersebut, saya buat dalam tempo sekitar tiga jam, dengan mesin ketik butut pinjaman teman satu kos.
 
Ketiga, dengan dimuatnya artikel tersebut, membuka mata, saya mampu menulis. Profesi sebagai penulis yang sebelumnya jauh dari angan-angan. Anggapan saya ‘mampu menjadi penulis’ amat penting dan bermakna bagi kehidupan saya.
 
Sukses menulis artikel pertama, membuat saya ketagihan. Tentang apa saja saya tulis. Artikel-artikel saya berikutnya, sebagian besar dimuat di sejumlah media massa, meski ada sekitar empat puluh persen dari artikel tersebut gagal tayang di media.
 
Menghadapi kenyataan, ada artikel yang ditolak, saya sabar. Saya pernah bertemu dengan seorang redaktur koran, dia mengatakan, kiriman artikel dari luar jumlahnya sangat banyak. Karena itulah kompetisi atau seleksi artikel sangat ketat.
 
Saya terus menulis dan menulis. Honor  menulis saya gunakan untuk biaya kuliah. Untuk menggali ide-ide segar ke perpustakaan, membaca koran atau majalah serta bergaul dengan sejumlah komunitas; teman-teman di senat mahasiswa, maupun di organisasi ekstra kampus. Dari interaksi itulah, banyak menemukan ide-ide untuk artikel.
 
Dalam kaitannya dengan kelancaran kuliah, sangat tertolong. Seorang dosen yang cukup disegani, Prof. Dr Kunto Wibisono pernah menyatakan, jika ada mahasiswanya yang mampu mengangkat materi kuliah dipadu kondisi aktual lantas bisa termuat di media massa, tanpa ujian pun diberi nilai minimal B. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai A.
 
Satu hal yang sangat istimewa, menulis artikel juga bisa menjadi prasasti unik bagi wisuda saya. Saya mengikuti wisuda sarjana di UGM pada tanggal 18 agustus 1984, sebagai wisudawan dengan nilai tertinggi dan waktu studi tercepat. Saya ingin agar pada hari saya diwisuda, artikel saya bisa dipampang di koran terbesar terbitan Yogyakarta. Beberapa hari sebelum wisuda, saya mencari bahan tulisan terkait dengan tanggal 18 agustus, tanggal wisuda tersebut.
 
Proklamasi Kemerdekaan RI dilakukan 17 Agustus 1945, namun ternyata berbagai perangkat yang harus dimiliki sebuah Negara dilakukan pembahasannya pada tanggal 18 Agustus 1945. Momentum mengenang 18 Agustus saya angkat untuk sebuah artikel, dan saya beri keterangan untuk dimuat pada tanggal 18 Agustus 1984. Redaktur Opini harian Kedaulatan Rakyat setuju. Terbit tanggal 18 Agustus 1984, bersamaan dengan hari saya diwisuda sarjana.
 
Yang membuat artikel tersebut tidak bisa dilupakan, di akhir tulisan diberi catatan, “penulis hari ini di wisuda sarjana di kampus UGM”.
 
Berkat modal kemampuan menulis, mulai semester dua hingga wisuda sarjana, artikel-artikel saya sudah menembus  sekitar sepuluh media masa di tanah air. Inilah suatu bukti bahwa menulis merupakan hal yang luar biasa, karena dengan menulis bisa membiayai kuliah hingga sarjana.
 
Usai wisuda sarjana, kancah pekerjaan yang saya tekuni hingga saat ini juga masih terkait dengan tulis menulis. Awalnya saya diterima di majalah Kartini. Tahun 1988 pindah ke Malang sebagai wartawan Suara Karya untuk wilayah Jatim.
 
Setelah lama bekerja di majahah dan surat kabar harian, tahun 1995 jadi jurnalis di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mulai bulan Mei tahun 2007 hingga sekarang, mengemban amanah sebagai jurnalis di MNC Grup (TPI, RCTI  dan Global TV ) untuk wilayah Kota Malang Jawa Timur.

=============== 

DAFTAR ULANG (Pemenang, Juara I)

Muhammad Zen lahir di Jepara Jawa Tengah, 4 Juli 1960. Alumni Jurusan Filsafat Barat Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, lulus 1984. Saat wisuda terpilih sebagai wisudawan dengan nilai terbaik dan waktu studi tercepat di fakultas.

Saat kuliah pernah terpilih sebagai Mahasiswa Teladan. Kegemaran menulis dimulai sejak kuliah. Saat kuliah artikel-artikelnya tembus di sekitar 10 media massa pusat dan daerah.

Pernah bekerja sebagai wartawan Majalah Kartini di Jakarta, serta pernah jadi Kordinator Wartawan Harian Suara Karya Perwakilan Jatim.

Kini jadi Jurnalis di MNC Grup (RCTI, TPI dan Global TV) untuk wilayah Kota Malang Jawa Timur.
Alamat rumah: Perumahan Bunul Asri Blok B-17 Malang.

Buku ini yang telah ditulis:
1. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru, Cakrawala Media Publisher, Malang, Desember 2007
2. NU Pasca Khittah, Prospek Ukhuwah Dengan Muhammadiyah, MW Mandala Yogyakarta, 1992 (bersama Khoirul Fathoni).

Muhammad Zen bisa dihubungi melalui email: mhzen@yahoo.com atau mzenmzen@plasa.com. hp: 08123383495

http://mhzen.wordpress.com
http://mzenmzen.multiply.com
 

Older Posts »