Feeds:
Tulisan
Komentar

Oleh: Muhammad Zen

Jum’at malam kemarin, saya baru saja menghadiri acara Recognition di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Luar biasa, meski acara tersebut membayar Rp 35.000 perorang namun  dihadiri ribuan orang. Sekitar 5.000 orang dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan berbagai propinsi di Indonesia, hadir dalam acara tersebut.

 

Acara ini sebetulnya diadakan oleh K-Link, sebuah perusahaan yang memproduksi suplemen untuk pengobatan cara herbal atau alami. Mengapa ribuan orang menyemparkan hadir dalam acara tersebut ? Inilah yang mengherankan.

 

Saya bersama istri yang ikut di acara tersebut,  awalnya juga heran. Ditinjau dari psikologi massa, kira-kira apa yang menyebabkan ribuan orang dari berbagai penjuru tanah air ikut hadir di acara tersebut ?

Bisa jadi yang menjadi faktor utama adalah “Kemanfaatan”. Mereka merasakan langsung manfaat setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis di K-Link. Baik manfaat segi kesehatan, maupun manfaat dalam pengembangan bisnis.

 

Sebab  dalam kesempatan tersebut, ditampilkan sejumlah orang yang sukses setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis K-Link. Banyak orang yang awalnya biasa-biasa saja (ada yang petani, penjual ikan bakar, tukang pijat urut, sales keramik dll) namun setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis K-Link menjadi luar biasa, dengan penghasilan puluhan juta rupiah perbulan. Tampaknya banyak orang yang tertarik, awalnya orang biasa namun kemudian jadi luar biasa. Termasuk saya dan Anda tentunya.

OLEH : MUHAMMAD  ZEN

       Pada prinsipnya, usaha kecil menengah (UKM) merupakan salah satu sektor  yang cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia . Di saat krisis ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UKM mampu menjadi ”katup pengaman” agar tenaga kerja tidak sampai menganggur.
       Akibat merebaknya krisis global, dimana-mana muncul pemutusan hubungan kerja (PHK). Banyak pengusaha yang kalang kabut, karena di saat pusing mengurusi krisis global, justru sejumlah karyawan menuntut adanya kenaikan gaji. Akibatnya, dampak terburuk berupa PHK tak bisa terhindarkan lagi.
       Di saat banyak tenaga kerja yang menganggur akibat terkena PHK, maka sektor usaha kecil dan menengah menjadi salah satu solusi yang paling baik. Banyak korban PHK yang lantas membuka usaha sendiri kecil-kecilan, misalnya menggunakan modal uang pesangon yang diterima. Terlepas dari banyak kekurangannya, realitasnya jenis usaha ini mampu menghinbdarkan seseorang tidak terjebak jadi  pengangguran.  
       Namun kenyataannya, banyak pula sektor UKM yang kondisinya kembang-kempis, atau ”bagai mati segan hidup tak mau”. Usaha yang dijalankan sulit bersaing dengan sektor ekonomi makro, yang banyak didominasi para pengusaha dengan modal raksasa. Di saat pengusaha yang bermodal besar menurunkan harga jual produknya ke titik terendah, biasanya lantas banyak sektor usaha kecil yang gulung tikar karena kalah bersaing dalam memperebutkan konsumen. 
            Walau UKM merupakan salah satu sektor pengaman agar terhindar dari pengangguran, namun sektor usaha ini pada umumnya relatif lemah dari sisi manajemen bisnis. Ada sejumlah kelemahan, yang selama ini membelit kehidupan sektor UKM. Dalam kaitan ini, minimal ada lima kelemahan terkait kondisi UKM secara umum.
Lima kelemahan tersebut masing-masing yakni:
1. Kelemahan dalam mengakses pasar. Kelemahan akses pasar selama ini merupakan kelemahan yang dialami hampir sebagian besar UKM di tanah air. Hal ini karena mereka rata-rata kurang memiliki informasi yang lengkap dan rinci, terkait pasar mana saja yang bisa ditembus oleh produk yang dihasilkan.
2. Kelemahan dalam akses teknologi. Akses teknologi merupakan salah satu kelemahan sektor UKM. Kondisi ini tentu merupakan salah satu hambatan, demi memajukan sektor UKM. Padahal jika produk UKM sudah mendapat sentuhan teknologi, tentu akan mudah diterima pasar. 
3. Kelemahan dalam akses modal. Akses modal juga merupakan kelemahan UKM. Ini amat ironis, karena belakangan ini banyak bank berhamburan dana namun kurang melirik UKM. 
4. Kelemahan dalam manajemen keuangan. Kalangan UKM rata-rata tidak memiliki pola majemen keuangan yang rapi. Sehingga kadang sulit membedakan antara keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga.
5. Kelemahan SDM. SDM yang mendukung UKM rata-rata memang relatif kurang handal. Dalam kondisi inilah pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga sosial yang lain hendaknya bisa ikut berperan meningkatkan SDM yang mendukung UKM.         
       Meski demikian, di tengah banyaknya UKM yang terkendala sejumlah kelemahan, ternyata banyak pula UKM yang memiliki prospek bagus dalam perkembangan bisnis. Mereka ini kadang diusebut UKM unggulan, karena di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda, justru beberapa UKM mampu berkembang pesat. Bakso Cak Man di sektor kuliner , atau Bandung Sport di sektor toko fashion misalnya, merupakan contoh di antara sederet UKM yang memiliki prospek bagus di masa mendatang.

Oleh : Muhammad Zen

Pada prinsipnya di semua organisasi, termasuk organisasi dalam bentuk perusahaan, senantiasa memiliki budaya tertentu. Sistem Budaya inilah yang sering disebut budaya organisasi. Dengan adanya budaya organisasi, kondisi kerja dan sistem yang ada jadi terbentuk secara spesifik, sesuai dengan filosofi perusahaan atau filosofi organisasi.

 

Realisasi budaya organisasi dalam sebuah unit usaha atau perusahaan ? Tidak sulit untuk menemukannya. Jika kita sedang berbelanja di sebuah Toko Swalayan yang menganut waralaba misalnya, kita akan menjumpai sejumlah karyawan atau karyawati yang memiliki sikap budaya yang nyaris sama. Pelayanan di Alfamaret atau Indomaret misalnya, di manapun lokasinya, kita hampir selalu menemui tipikal pelayanan yang relatif sama.

 

Kondisi ini terjadi karena memang toko swalayan yang dibangun dengan sistem waralaba tersebut, menerapkan sebuah sistem ”budaya organisasi” yang sama pada setiap cabang. Mereka memiliki standar pelayanan yang sama terhadap konsumen.  Sehingga di manapun karyawan tersebut ditempatkan, mereka akan mampu melayani konsumen dengan standar layanan yang sama pula.

 

Karena budaya organisasi ini kadang diterapkan tanpa ”roh” atau tanpa ”penjiwaan” kita kadang-kadang menyaksikan sikap karyawan yang seakan seperti mesin atau robot yang tanpa jiwa. 

Sebagai solusi, ada sejumlah langkah yang bisa kita upayakan untuk memperbaiki simtem budaya organisasi. Dengan langkah ini diharapkan budaya organisasi yang tergelar akan lebih ”berjiwa” dan bisa dihayati segenap karyawan.

         

1. Budaya organisasi memiliki peran yang sangat penting, dalam upaya meningkatkan kinerja sebuah perusahaan atau unit usaha. Karena itu pihak pemilik lembaga usaha, hendaknya memperhatikan betul akan budaya organisasi yang berkembang di lingkungan karyawan.     

 

2. Pihak manajer atau pimpinan lembaga usaha, memiliki peran yang penting dalam upaya pengembangan budaya organisasi di lembaga tersebut. Maka seorang pimpinan yang memegang kendali lembaga usaha, perlu memiliki visi yang jelas agar mampu mewarnai kondisi budaya organisasi yang ada.

 

3. Budaya organisasi akan mampu dijalankan dengan baik oleh segenap karyawan di sebuah peruasahaan atau unit usaha, jika budaya tersebut dihayati segenap karyawan. Penghayatan atau penjiwaan para karyawan terhadap budaya organisasi dalam kondisi sehari-hari ini amat penting, agar penerapan budaya organisasi tidak hanya sebatas formalitas atau sekedar dihafal dibibir semata-mata, melainkan dijalankan dengan penuh penghayatan segenap karyawan.

 

Jika aktualisasi budaya organisasi ini tidak dibarengi dengan penjiwaan atau penghatan dari segenap karyawan, maka tingkah laku para karyawan hanya sekedar menirukan doktrin dari pimpinan manajemen, sehingga mirip sebuah robot yang tanpa penjiwaan.

KANGEN NULIS DI BLOG

Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Sudah sekian bulan rasanya, sehingga terasa kangen sekali.

 

Buat sejumlah teman yang selama ini sering saling kunjung, maaf agak lama saya tidak mengunjungi  rumah maya ini. Penyebabnya memang karena kesibukan yang sering menumpuk.

 

Oh ya, sejak Mei lalu saya aktif di organisasi wartawan, maklujm latar belakang saya memang seorang jurnalis. Saya bekerja sebagai Jurnalis di MNC Grup (RCTI, TPI dan Global TV) untuk Wilayah Kota Malang. Saya terhitung mulai Mei 2008 masuk di Kepengurusan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang Raya, sebagai Wakil Ketua.

 

Cukup banyak liku-lku menekuni organisasi kewartawanan semacam PWI. Beragam suka dan dukanya, tapi yang jelas amat dinamik dan menggairahkan. Nanti liku-liku berkecimpung di kancah organisasi wartawan, bisa saya tulis tersendiri.

 

Oh ya, selain sibuk memburu berita, mengurusi organisasi wartawan, serta mengelola penerbitan buku, saya mulai semester ini juga kuliah lagi. Saya  kuliah ambil S-2 di Pasca Sarjana Universitas Islam Malang (Unisma) program Magister Manajemen. Liku-likunya juga cukup menarik, maklum latar belakang Sarjana saya adalah disiplin Filsafat dari UGM Yogya.

 

Oke, sekian dulu, nanti kita sambung lagi. SEmoga saya bisa kembali aktif mengisi blog ini. Salam dari Kota Apel Malang

CARA MUDAH MENULIS BUKU

Menulis merupakan kegiatan ringan namun berdampak luar biasa dalam kehidupanseseorang. Seorang tokoh yang pandai menulis dan gemar menulis, akan terus dikenang oleh generasi-generasi sesudahnya, meskipun tokoh yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sepanjang tulisannya masih bermanfaat dan masih dibaca orang, maka tokoh yang telah wafat tersebut akan terus dikenang orang.  

Kegiatan menulis juga merupakan salah satu hal  yang amat menyenangkan, serta bisa mendatangkan imbalan finansial dan non finansial. Banyak orang yang merasa hidupnya lebih bermakna dengan aktif menulis. Dengan produktif menulis, seseorang akan lebih bergairah dalam hidupnya. Semangat hidup seseorang akan terus terjaga, jika orang tersebut rajin menganalisa dan menuangkan hasil analisanya dalam sebuah tulisan.

Hanya saja di sisi lain aktifitas menulis juga  banyak sekali hambatannya. Banyak orang yang berniat menulis, misalnya ingin menulis artikel ilmiah, menulis buku ilmiah atau menulis novel dan cerpen, namun hanya sebagian yang mampu merealisasikan niat tersebut. Seringkali niat untuk menulis, hanya sekedar “niat” atau keinginan semata-mata. Hanya orang-orang yang punya sikap serius dan ulet, yang mampu merealisasikan “niat menulis” jadi tulisan yang riil. 

Ada orang hanya berniat dan berniat saja menulis, namun belum juga tergerak untuk merealisasikan menulis. Mereka kadang beralasan besok sajalah, sekarang masih repot, masih sibuk. Besuk saja saya akan membuat tulisan terbaik, yang akan bisa best seller dan mampu mengalahkan tulisan penulis lain.

Tetapi esok hari juga beralasan “besok saja” sehingga tulisan yang diinginkan  tak kunjung jadi. Selama orang yang mau menulis tersebut terus menunda-nunda aktifitas menulis, maka dia tidak akan jadi menulis. Intinya seseorang seringkali memiliki kecenderungan “menunda menulis” dan menunda lagi, sehingga ide menulis tersebut tetap hanya tinggal ide saja. Inilah salah satu hambatan atau kendala bagi seseorang yang ingin menulis, baik menulis artikel maupun menulis buku.  

Sibuk atau repot karena sedang mengerjakan sesuatu, seringkali menjadi alasan paling masuk akal bagi kita untuk menunda menulis. Apabila hal  ini dituruti, kemungkinan yang terjadi yakni tulisan kita tak akan selesai, dan sampai kapanpun rencana kita untuk menulis buku atau menulis artikel  tidak akan jadi kenyataan. Sebab kita selalu sibuk dan sibuk terus, sehingga rencana menulis selalu tertunda. 

Hanya saja, jika mengobrol atau bincang-bincang dengan teman atau dengan keluarga (atau dengan siapa saja), kita selalu bisa. Untuk bincang-bincang atau ngobrol selalu ada waktu. Sesibuk apapun kita, biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Di saat kita amat sibuk mengurusi pekerjaan kantor, mengurusi anak didik menjelang Ujian Nasional misalnya, jika saat makan siang ketemu sahabat lama, biasanya kita tetap bias ngobrol lama sampai berjam-jam. 

Coba kita bertanya kepada diri sendiri, apabila  menulis sering ditunda (dengan alasan sibuk atau repot), mengapa jika ngobrol selalu bisa ? Tanpa sadar kita kadang ngobrol ngalor ngidul berlama-lama, mengapa waktu untuk ngobrol itu tidak dipakai untuk menulis ? Padahal jika waktu yang kita pakai untuk ngobrol tersebut kita manfaatkan untuk menulis, niscaya kita sudah mendapatkan tulisan cukup banyak. Karena itu marilah kita kurangi kegemaran ngobrol, dan kita salurkan secara positif menjadi kegemaran menulis. (Bersambung) 

Profesi guru memang merupakan profesi yang cukup sibuk. Para guru yang juga sering disebut sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” tersebut, sehari-harinya berangkat pagi ke sekolah dan hampir sepanjang hari di sekolah mendidik para siswanya. Pulang dari sekolah, sampai di rumah biasanya sudah sore.

 

Lantas jika guru sehari-harinya sibuk mengajar di kelas, apakah masih ada waktu untuk menulis ? Demikian pertanyaan dari salah seorang guru, yang mengikuti LOKAKARYA NASIONAL STRATEGI PENULISAN KARYA ILMIAH, di Aula Utama Gedung A-3 Kampus Universitas Negeri Malang, Minggu, 8 Juni 2008.

 

Pemateri yang tampil dalam Lokakarya tersebut ada 2, yakni Drs Mulyadi Guntur Waseso (Dosen Senior Universitas Negeri Malang dan Praktisi Penulisan Karya Ilmiah), serta Drs Muhammad Zen (Penulis Buku “Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru” dan Jurnalis Televisi Nasional). Bertindak sebagai Moderator: Noordin Djihad (Pemimpin Redaksi Koran Pendidikan), serta MC Soly Anwar (Penyiar Radio Andalus).

 

Lokakarya tersebut diikuti sekitar 125 orang peserta, mayoritas para guru mulai Guru TK, Guru SD, Guru SMP, Guru SMA dan Guru SMK. Namun guru dari kalangan sekolah di bawah naungan Depag semisal MI atau MTs juga banyak yang ikut. Mereka datang dari berbagai daerah di tanah air. Selain dari Malang Raya, peserta juga datang dari Tuban, Kediri, Blitar, Nganjuk, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Mojokerto, bahkan ada yang datang dari Papua atau Irian Jaya.

 

Dengan penuh semangat, ratusan  guru ini mengikuti lokakarya. Mereka tampaknya demikian antusias untuk belajar bagaimana strategi menulis, agar bisa menjadi penulis berkualitas. Puluhan pertanyaan bermunculan dalam sesi diskusi, termasuk pertanyaan dari seorang guru, yang mengatakan bagaimana agar guru tetap bisa menulis meski sehari-harinya sibuk mengajar.

 

Ingin tahu bagaimana strategi tetap bisa menulis produktif meski kondisi kita amat sibuk ? Simak Tulisan saya selanjutnya.     

 

Guru merupakan salah satu profesi yang  memungkinkan untuk menjadi penulis yang produktif dan berkualitas. Sebab di kancah pendidikan, seorang guru bisa mengulas apa saja, bisa menulis apa saja terkait dengan problematika yang dihadapi.

 

Beragam masalah yang muncul di kancah pendidikan, sebetulnya amat menarik dituangkan dalam tulisan. Figur guru merupakan orang yang paling berkompeten, menulis beragam masalah yang mencuat di kancah pendidikan tersebut.

 

Namun mengapa saat ini jumlah guru yang berprofesi sebagai penulis tidak banyak ? Mengapa hanya sedikit guru yang mampu menjadi seorang penulis yang handal ? Mengapa tidak banyak guru yang bisa menulis produktif sekaligus berkualitas ?

 

Bisa jadi masalahnya hanya karena kurang mengerti strategi yang tepat menjadi penulis produktif. Para guru tidak banyak yang tahu bagaimana strategi yang pas, agar bisa menghasilkan tulisan yang banyak dan kualitasnya baik.

 

Karena itulah, kami dari Cakrawala Media Publisher bekerjasama dengan Harian Surya, Koran Pendidikan dan Jurusan Bimbingan Konseling Psikologi (BKP) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, akan menggelar seminar nasional terkait strategi menulis karya ilmiah untuk para guru. Adapun pengumuman Lokakarya tersebut adalah sebagai berikut:

 

LOKAKARYA NASIONAL

STRATEGI PENULISAN KARYA ILMIAH UNTUK GURU

 

Pemateri:

1. Drs. Mulyadi Guntur Waseso

    Dosen Senior Universitas Negeri Malang

    Pakar & Praktisi Penulisan Karya Ilmiah

 

2. Drs. Muhammad Zen

    Penulis Buku “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”

    Jurnalis Televisi Nasional

 

 

Tempat: Aula  Gedung  A-3

Kampus Universitas Negeri Malang

Jl. Surabaya 6 Malang

 

Minggu, 8 Juni 2008

Pukul  08.00 hingga selesai

 

Biaya Pendaftaran:

Rp 125.000

 

Peserta memperoleh:

-Makan Siang

-Snack

-Makalah

-Sertifikat

-Bonus Buku: Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru

  (Senilai Rp 25.000)

-Bonus Konsultasi Gratis Tentang Strategi Menulis, pasca Lokakarya hingga mahir, tanpa batas waktu.

 

*Doorprize puluhan hadiah menarik dari Harian Surya, Koran Pendidikan, Radio Andalus dan sponsor lain

 

Pendaftaran:

1.  Sekretariat Panitia: Perumahan  Bunul Asri Blok B  nomor  17 Malang

     Telepon  0341-472588  Fleksi:   0341-9121088  

2. Radio Andalus, Tlogomas  Malang       

3. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi  (BKP ) Fakultas Ilmu

     Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Jalan Surabaya 6 Malang

     Telepon: 588 099

4. Koran Pendidikan Jalan Bogor nomor 44 Malang

     Telepon : 563064

 

 

 

 

“Sikap Nekat” penulis yang menerbitkan buku sendiri, alias self publishing, memang selalu memantulkan kisah menarik. Banyak hal yang bisa diceritakan, dan kisah jadi penerbit ini tentu saja merupakan hal baru bagi seorang penulis.

Setelah naskah siap cetak, maka memilih percetakan bukan hal yang sulit. Sebagai penerbit, kita bisa memilih percetakan yang sesuai. Dalam arti sesuai antara harga dan kualitas. Saat berhubungan dengan pihak percetakan, maka yang perlu kita bicarakan adalah masalah kertas cover (kualitas kertas dan berapa gram), juga kertas di halaman dalam pakai berapa gram. Ukuran buku juga perlu dibicarakan detail.

Usai buku dicetak, yang memakan energi seringkali yakni berburu Distributor buku yang bagus. Alamat distributor buku ini bisa kita peroleh dari buku (sejumlah buku kadang mencantumkan alamat dan tlp distributornya). Alamat distributor buku ini juga bisa diperoleh dari pencarian via internet, dengan memasukkan kata kunci “distributor buku”.

Untuk buku saya berjudul: KIAT SUKSES MENGIKUTI SERTIFIKASI GURU, saya percayakan ke Distributor di Surabaya. Peredaran lewat distributor ini untuk menjangkau toko buku di berbagai daerah di tanah air. Namun karena buku tersebut banyak dibutuhkan para guru, sejumlah Kantor Dinas Pendidikan dari berbagai daerah, minta dikirim langsung. Bahkan belakangan ini banyak panitia Seminar Guru / Panitia Seminar Sertifikasi, yang langsung kontak ke HP saya ( 08123383495 ) yang minta dikirim buku dalam jumlah banyak dan biasanya saya kasih diskon spesial.

Semua itu mengasyikkan, karena kita yang semula jadi penulis jadi tahu liku-liku jaringan peredaran buku. Yang lebih penting, jika self publishing maka keuntungan kita jauh lebih banyak. Bayangkan, jika naskah kita diterbitkan pihak lain, sekali cetak untung Rp 12,5 juta, maka porsi penulis hanya Rp 2,5 juta dan porsi penerbit Rp 10 juta. Namun jika self publishing, maka Rp 12,5 juta tersebut jadi milik kita.

Adakah sisi negatifnya ? Ternyata ada. Karena terlalu asyik mengurusi jaringan distribusi, kadang kita jadi “kurang produktif menulis” untuk sementara waktu. Ini wajar dan merupakan resiko seorang penulis yang “self publishing”.

Menerbitkan buku sendiri alias “Self Publishing” ternyata memiliki beragam sisi positif dan negatif.  Bagi seorang penulis, kiprah menerbitkan buku karyanya sendiri, memunculkan sederet sisi positif. Sisi positif self publishing ini amat banyak, sehingga mungkin tidak cukup jika hanya dibahas dalam satu kali tulisan.

 

Di antara sisi positif tersebut, yakni dengan Self Publishing seorang penulis akan mampu jadi manajer bagi peredaran buku yang ditulisnya sendiri. Lain lagi jika tulisan kita tersebut diterbitkan oleh penerbit lain, maka yang menghandel marketing, distribusi dll adalah pihak penerbit tersebut. Namun jika kita lakukan Self Publishing maka semua itu kita sendiri (atau orang-orang kita) yang menangani.

 

Mulai dari urusan nomor ISBN, mengurus tata letak buku, mencetak buku, hingga distribusi dan pemasaran buku, kita sendirilah yang mengurus. Namun dalam hal ini bukan berarti kita harus menangani sendiri, tetapi bisa juga kita percayakan ke orang-orang yang sudah ahli, namun tetap di bawah kendali kita.

 

Dalam kaitannya dengan  mengurus ISBN misalnya, kita bisa menangani secara langsung. Jika mau mengurus secara langsung, maka mengurusnya di Kantor Perpustakaan Nasional Pusat, di Jalan Salemba Raya Jakarta. Ongkosnya tidak mahal yakni hanya Rp 60.000 per-buku (termasuk barcode). Meski ongkos tidak mahal, namun bagi penulis di daerah maka ongkos dari daerah ke Jakarta yang jauh lebih mahal.

 

Karena itulah, untuk penetbitan yang saya kelola, pengurusan ISBN saya percayakan ke seorang teman yang tinggal di Jakarta. Masalah kompensasi dana atau uang lelah, bisa kita rundingkan secara kekeluargaan. Yang penting kita bisa lancar memperoleh ISBN. Strategi  ini menurut saya lebih efektif, dibanding kita mengurus sendiri ke Jakarta, yang tentu butuh biaya transportasi lebih besar (untuk mengurus ISBN biasanya saya mengurus 3 buku sekaligus, agar lebih efektif).

     

Masalah tata letak buku atau desain sampul buku kita ? bisa juga kita percayakan ke orang lain. Misalnya kita bisa minta tolong ke pegawai bagian tata letak koran lokal di kota kita. Pegawai ini biasanya profesional sebab sehari-harinya memang mengurusi tata letak. (bersambung)

   

Menulis memang banyak sekali tantangan dan hambatannya. Banyak orang yang berniat menulis, bisa menulis artikel, novel atau menulis buku non fiksi, namun hanya sebagian yang mampu merealisasikannya jadi tulisan.

Sebagian orang hanya berniat dan berniat saja menulis, namun belum juga tergerak untuk merealisasikan menulis. Mereka kadang beralasan besok sajalah, sekarang masih repot, masih sibuk. Besuk saja saya akan membuat tulisan terbaik, yang akan bisa best seller dan mampu mengalahkan tulisan penulis lain. Namun esok hari juga beralasan “besuk saja” sehingga tulisan tak kunjung jadi.

Repot atau kesibukan, apapun bentuknya, seringkali menjadi alasan paling masuk akal bagi kita untuk menunda menulis. Namun jika ini dituruti, kemungkinan yang terjadi yakni tulisan kita tak akan selesai, dan sampai kapanpun rencana menulis tersebut tidak akan jadi kenyataan.

Ironisnya, jika mengobrol dengan teman atau dengan keluarga (atau dengan siapa saja), kita selalu bisa. Ngobrol selalu ada waktu. Sesibuk apapun kita, biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Nah pertanyaan kritis bagi diri sendiri perlu kita lontarkan, jika menulis sering ditunda (dengan alasan sibuk atau repot), mengapa jika ngobrol selalu bisa ? Tanpa sadar kita kadang ngobrol ngalor ngidul berlama-lama, mengapa waktu untuk ngobrol itu tidak dipakai untuk menulis ?

Ok, yuk kita sama-sama produktif menulis, kurangi ngobrol dan kita arahkan energi kita untuk tulisan. Ok Sukses Selalu

   

Tulisan Sebelumnya »