Sejumlah rekan penasaran dengan tulisan saya yang terpilih sebagai Juara I lomba menulis “Tentang Pengalaman Menulis”, yang diadakan www.menulismudah.com dan www.webersis.com . Agar tidak lagi penasaran, berikut ini saya kutipkan naskah tulisan saya tersebut.
Naskah ini sebetulnya sudah dimuat di 2 website tersebut, sejak akhir Desember lalu. Namun pengumuman juara sekitar tgl 6 atau 7 Februari kemarin. Berikut kutipan naskah selengkapnya:
Menulis Untuk Biaya Kuliah
MENULIS merupakan satu kata yang amat bermakna dalam kehidupan saya. Dengan berkiprah di kancah tulis menulis, kehidupan yang saya jalani bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Mengapa demikian? Gara-gara menulis, kondisi kehidupan saya yang berasal dari keluarga miskin, mampu terkatrol fantastik sehingga sukses kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri karismatik di tanah air.
Saya lahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, di Desa Sinanggul, Jepara Jawa Tengah. Usai menamatkan SLTA saya dengan “bondo nekat” memberanikan diri mendaftar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat itu tahun 1980 seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN menggunakan istilah Proyek Perintis, UGM Yogyakarta masuk Proyek Perintis I (semacam SPMB saat ini). Alhamdulillah diterima menjadi mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.
Satu semester berlalu, kondisi keuangan keluarga amat menipis. Maklum ayah seorang Modin di desa dengan penghasilan yang relatif pas-pasan. Menginjak semester dua, lebih memprihatinkan, kelangsungan kuliah terancam putus. Dilema menghadang: saya harus kerja untuk menyambung hidup di Yogyakarta atau meneruskan kuliah.
Saya berniat melamar jadi pegawai Pom Bensin (SPBU) di kawasan Terban Taman. Lantas mencari informasi di mana rumah pemilik SPBU tersebut. Dengan tekad yang membaja, mendatangi rumahnya. Di trotoar depan rumah pemilik SPBU tersebut pikiran berkecamuk. Jika jadi pegawai SPBU dan sibuk bekerja, lantas bagaimana kuliah? Jika tidak bekerja, bagaimana membiayai hidup di rantau? Niat tersebutsaya urungkan.
Esok paginya, di Harian Kedaulatan Rakyat, terpampang artikel tentang Pancasila yang ditulis seorang kolumnis. Isinya jauh berbeda dengan pemahaman saya, nurani saya berontak. Sang kolumnis, mengkritisi kondisi budaya dan Pancasila secara sepihak. Saya menulis artikel tandingan, dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran baru terkait Pancasila dan kondisi budaya Indonesia. Saya bisa menulis artikel Pancasila dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan populer, karena kuliah saya di Fakultas Filsafat memang banyak menyoroti tentang Filsafat Pancasila.
Tanpa diduga, berselang satu hari, artikel saya tulis tersebut dimuat Kedaulatan Rakyat. Artikel tersebut merupakan momentum yang sangat penting dalam hidup saya. Ada tiga hal yang bisa saya catat.
Pertama, tanggapan dari rekan-rekan mahasiswa dan dosen di kampus, luar biasa. Mereka menyambut antusias. Lebih lagi, saya merupakan satu-satunya mahasiswa junior mampu menembus koran. Para dosen juga sangat setuju dengan dengan ide-ide saya terkait dengan budaya nasional dalam kaitannya dengan pengembangan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, secara pribadi sangat puas, memperoleh honor Rp7.500. Sungguh jumlah luar biasa. Harga nasi sepiring di Yogyakarta, khususnya di kalangan mahasiswa kos-kosan sangat murah, sekitar seratus rupiah sepiring (sudah termasuk lauk ala kadarnya).
Dengan demikian honor satu artikel sebanding dengan 75 piring nasi. Artikel tersebut, saya buat dalam tempo sekitar tiga jam, dengan mesin ketik butut pinjaman teman satu kos.
Ketiga, dengan dimuatnya artikel tersebut, membuka mata, saya mampu menulis. Profesi sebagai penulis yang sebelumnya jauh dari angan-angan. Anggapan saya ‘mampu menjadi penulis’ amat penting dan bermakna bagi kehidupan saya.
Sukses menulis artikel pertama, membuat saya ketagihan. Tentang apa saja saya tulis. Artikel-artikel saya berikutnya, sebagian besar dimuat di sejumlah media massa, meski ada sekitar empat puluh persen dari artikel tersebut gagal tayang di media.
Menghadapi kenyataan, ada artikel yang ditolak, saya sabar. Saya pernah bertemu dengan seorang redaktur koran, dia mengatakan, kiriman artikel dari luar jumlahnya sangat banyak. Karena itulah kompetisi atau seleksi artikel sangat ketat.
Saya terus menulis dan menulis. Honor menulis saya gunakan untuk biaya kuliah. Untuk menggali ide-ide segar ke perpustakaan, membaca koran atau majalah serta bergaul dengan sejumlah komunitas; teman-teman di senat mahasiswa, maupun di organisasi ekstra kampus. Dari interaksi itulah, banyak menemukan ide-ide untuk artikel.
Dalam kaitannya dengan kelancaran kuliah, sangat tertolong. Seorang dosen yang cukup disegani, Prof. Dr Kunto Wibisono pernah menyatakan, jika ada mahasiswanya yang mampu mengangkat materi kuliah dipadu kondisi aktual lantas bisa termuat di media massa, tanpa ujian pun diberi nilai minimal B. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai A.
Satu hal yang sangat istimewa, menulis artikel juga bisa menjadi prasasti unik bagi wisuda saya. Saya mengikuti wisuda sarjana di UGM pada tanggal 18 agustus 1984, sebagai wisudawan dengan nilai tertinggi dan waktu studi tercepat. Saya ingin agar pada hari saya diwisuda, artikel saya bisa dipampang di koran terbesar terbitan Yogyakarta. Beberapa hari sebelum wisuda, saya mencari bahan tulisan terkait dengan tanggal 18 agustus, tanggal wisuda tersebut.
Proklamasi Kemerdekaan RI dilakukan 17 Agustus 1945, namun ternyata berbagai perangkat yang harus dimiliki sebuah Negara dilakukan pembahasannya pada tanggal 18 Agustus 1945. Momentum mengenang 18 Agustus saya angkat untuk sebuah artikel, dan saya beri keterangan untuk dimuat pada tanggal 18 Agustus 1984. Redaktur Opini harian Kedaulatan Rakyat setuju. Terbit tanggal 18 Agustus 1984, bersamaan dengan hari saya diwisuda sarjana.
Yang membuat artikel tersebut tidak bisa dilupakan, di akhir tulisan diberi catatan, “penulis hari ini di wisuda sarjana di kampus UGM”.
Berkat modal kemampuan menulis, mulai semester dua hingga wisuda sarjana, artikel-artikel saya sudah menembus sekitar sepuluh media masa di tanah air. Inilah suatu bukti bahwa menulis merupakan hal yang luar biasa, karena dengan menulis bisa membiayai kuliah hingga sarjana.
Usai wisuda sarjana, kancah pekerjaan yang saya tekuni hingga saat ini juga masih terkait dengan tulis menulis. Awalnya saya diterima di majalah Kartini. Tahun 1988 pindah ke Malang sebagai wartawan Suara Karya untuk wilayah Jatim.
Setelah lama bekerja di majahah dan surat kabar harian, tahun 1995 jadi jurnalis di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mulai bulan Mei tahun 2007 hingga sekarang, mengemban amanah sebagai jurnalis di MNC Grup (TPI, RCTI dan Global TV ) untuk wilayah Kota Malang Jawa Timur.
===============
DAFTAR ULANG (Pemenang, Juara I)
Muhammad Zen lahir di Jepara Jawa Tengah, 4 Juli 1960. Alumni Jurusan Filsafat Barat Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, lulus 1984. Saat wisuda terpilih sebagai wisudawan dengan nilai terbaik dan waktu studi tercepat di fakultas.
Saat kuliah pernah terpilih sebagai Mahasiswa Teladan. Kegemaran menulis dimulai sejak kuliah. Saat kuliah artikel-artikelnya tembus di sekitar 10 media massa pusat dan daerah.
Pernah bekerja sebagai wartawan Majalah Kartini di Jakarta, serta pernah jadi Kordinator Wartawan Harian Suara Karya Perwakilan Jatim.
Kini jadi Jurnalis di MNC Grup (RCTI, TPI dan Global TV) untuk wilayah Kota Malang Jawa Timur.
Alamat rumah: Perumahan Bunul Asri Blok B-17 Malang.
Buku ini yang telah ditulis:
1. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru, Cakrawala Media Publisher, Malang, Desember 2007
2. NU Pasca Khittah, Prospek Ukhuwah Dengan Muhammadiyah, MW Mandala Yogyakarta, 1992 (bersama Khoirul Fathoni).
Muhammad Zen bisa dihubungi melalui email: mhzen@yahoo.com atau mzenmzen@plasa.com. hp: 08123383495
http://mhzen.wordpress.com
http://mzenmzen.multiply.com