PLUS MINUS MENERBITKAN BUKU SENDIRI, Seri:2 (Sisi Unik Self Publishing)
April 29, 2008 oleh mhzen
“Sikap Nekat” penulis yang menerbitkan buku sendiri, alias self publishing, memang selalu memantulkan kisah menarik. Banyak hal yang bisa diceritakan, dan kisah jadi penerbit ini tentu saja merupakan hal baru bagi seorang penulis.
Setelah naskah siap cetak, maka memilih percetakan bukan hal yang sulit. Sebagai penerbit, kita bisa memilih percetakan yang sesuai. Dalam arti sesuai antara harga dan kualitas. Saat berhubungan dengan pihak percetakan, maka yang perlu kita bicarakan adalah masalah kertas cover (kualitas kertas dan berapa gram), juga kertas di halaman dalam pakai berapa gram. Ukuran buku juga perlu dibicarakan detail.
Usai buku dicetak, yang memakan energi seringkali yakni berburu Distributor buku yang bagus. Alamat distributor buku ini bisa kita peroleh dari buku (sejumlah buku kadang mencantumkan alamat dan tlp distributornya). Alamat distributor buku ini juga bisa diperoleh dari pencarian via internet, dengan memasukkan kata kunci “distributor buku”.
Untuk buku saya berjudul: KIAT SUKSES MENGIKUTI SERTIFIKASI GURU, saya percayakan ke Distributor di Surabaya. Peredaran lewat distributor ini untuk menjangkau toko buku di berbagai daerah di tanah air. Namun karena buku tersebut banyak dibutuhkan para guru, sejumlah Kantor Dinas Pendidikan dari berbagai daerah, minta dikirim langsung. Bahkan belakangan ini banyak panitia Seminar Guru / Panitia Seminar Sertifikasi, yang langsung kontak ke HP saya ( 08123383495 ) yang minta dikirim buku dalam jumlah banyak dan biasanya saya kasih diskon spesial.
Semua itu mengasyikkan, karena kita yang semula jadi penulis jadi tahu liku-liku jaringan peredaran buku. Yang lebih penting, jika self publishing maka keuntungan kita jauh lebih banyak. Bayangkan, jika naskah kita diterbitkan pihak lain, sekali cetak untung Rp 12,5 juta, maka porsi penulis hanya Rp 2,5 juta dan porsi penerbit Rp 10 juta. Namun jika self publishing, maka Rp 12,5 juta tersebut jadi milik kita.
Adakah sisi negatifnya ? Ternyata ada. Karena terlalu asyik mengurusi jaringan distribusi, kadang kita jadi “kurang produktif menulis” untuk sementara waktu. Ini wajar dan merupakan resiko seorang penulis yang “self publishing”.
salam kenal pak, senang bisa berkenalan dengan orang seperti anda. blog seperti ini yang salah satunya saya cari, yang mengulas tentang buku dan pendidikan walaupun saya bukan praktisi pendidikan. wassalam. please visit http://indonesianway.wordpress.com
Mas Ammar terimakasih kunjungannya
Gimana kabar Yogyakarta ? Saya sudah lama ninggalin Yogya sejak 1984 lalu.
Salam dari Kota Dingin Malang
Sukses Ya
mas bagus juga riwayat hidupny selamat berjuang ya.
saya jadi termotifasi atas semuanya.
maaf ya mas bukan maksud saya menghina tapi itu ajaran buat saya.
oya mas saya mau tahu Email mas mhd zen. dan mas adhi wirawan
Mas Syahputra terimakasih telah mampir
email saya: mhzen@yahoo.com atau mzenmzen@gmail.com
Salam dari Kota Apel Malang
Sukses Selalu Ya
Wah mantap banar, pak.
Memang berjuang itu harus dengan pengorbanan.
Mas Irsan Matur Nuwun telah berkunjung
Asal Yogya ya, saya dulu saat kuliah di Bulaksumur, kost di Terban Taman Yogya.
Setelah di Banjarbaru pernah bertemu Mas Ersis ?
Sukses Ya, pengalaman praktis di kancah psikologi amat menarik lo jika dibukukan.
Salam Dari Kota Apel Malang
Salam kenal Pak Muhammad.
Saya Ovan dari Malang, cuman saat ini ada di Jkt.
Saya sdh bergerak utk menerbitkan buku secara indie dg modal kecil-kecilan.
Memang berat dan melelahkan. Tapi, klo pas hasilnya oke, rasanya seperti … gimana gitu. Nggak bisa dibandingkan dengan materi, meski itu yg kita cari.
Senang membaca tulisan Anda yg inspiratif.