Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

Akhir-akhir ini banyak anak muda mulai menggandrungi bekerja di kancah jurnalistik atau wartawan. Banyaknya minat anak muda ke dunia wartawan ini, merupakan hal yang wajar dan logis. Sebab wartawan merupakan salah satu profesi yang amat fleksibel, jauh berbeda dengan profesi yang lain.  

Sosok wartawan bisa berada di mana saja dan kapan saja, serta selalu memiliki alasan kuat karena untuk kepentingan pengembangan liputan atau mencari berita. Kondisi ini sering dimanfaatkan oleh wartawan yang pandai menjalin hubungan dengan pihak lain, untuk pengembangan diri dengan spesialisasi tertentu.  

Namun  tingkat fleksibel kancah kewartawanan juga tetap terbatas. Pekerjaan seorang wartawan memang amat fleksibel, terutama di saat kondisi berita sedang sepi atau tidak terlalu padat. Namun pada saat frekuensi berita demikian padat dan kualitas beritanya amat penting, maka profesi ini tiba-tiba berubah jadi kaku dan keras. Jika tiba-tiba muncul berita yang amat dahsyat dengan skala pemberitaan level nasional atau internasional, maka seorang wartawan dituntut harus secepat kilat terjun melakukan liputan. Terlambat sedikit saja, maka hasil liputan wartawan tersebut akan tertinggal, dibandingkan dengan media massa yang lain. 

Salah satu contoh saat di kawasan Kota Batu Malang Jawa Timur, muncul berita tewasnya gembong teroris Doktor Azahari. Wartawan yang berada di Malang dan sejumlah daerah di Jawa Timur, tituntut secepat kilat terjun ke kawasan tersebut melakukan liputan. Bahkan sejumlah wartawan dari Jakarta dan kota-kota lain di tanah air, demikian gigih berjuang keras agar bisa secepatnya sampai ke Kota Batu Malang, untuk liputan tertembaknya Doktor Azahari.  

Hal ini patut dimaklumi, mengingat peristiwa tewasnya gembong teroris tersebut merupakan peristiwa dahsyat dan amat penting untuk konsumen media massa. Baik media massa daerah, nasional maupun internasional, semua menilai kasus tewasnya Doktor Azahari adalah berita penting. Pada saat itulah kondisi wartawan amat ketat, tidak boleh tertinggal sedikit pun dan seandainya ada kepentingan lain maka harus segera ditinggalkan demi untuk liputan kasus tersebut.  

Namun di saat kondisi berita relatif sepi atau stabil, profesi wartawan memang bisa dibilang fleksibel. Karena fleksibelnya profesi tersebut, maka seorang wartawan bisa saja kerja sambilan sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi, jadi guru, makelar tanah bahkan ada yang jadi makelar kasus (biasa disebut markus). Selain itu banyak pula wartawan yang lantas terjun ke kancah politik menjadi pengurus Parpol atau bahkan ada yang jadi anggota DPRD dan DPR, berkat adanya kedekatan saat liputan dengan tokoh Parpol tertentu.  

Ada bahayanya ? Bisa jadi, tapi itulah kenyataan yang sering terjadi. Bagaimana menurut Anda ?

Salam dari Kota Apel Malang

mhzen@yahoo.com  dan mzenmzen@plasa.com

Iklan

Read Full Post »

Mendidik Anak Gemar Wirausaha

Profesi sebagai wirausahawan, selama ini belum begitu memikat bagi generasi muda. Para remaja saat ditanya apa cita-citanya, kebanyakan menjawab ingin jadi insinyur atau dokter. Jarang sekali ada anak atau remaja, yang sejak awal bercita-cita ingin jadi seorang wirausahawan.  

Kondisi ini  karena kancah wirausaha atau dunia bisnis, masih jauh dari kehidupan anak-anak atau remaja. Mereka tidak tahu atau belum tahu indahnya kancah wirausaha, sebab selama ini lingkungan yang ada memang kurang kondusif. Mereka berangan-angan jadi dokter atau insinyur, karena profesi tersebut dinilai sebagai profesi hebat dan menjanjikan imbalan finansial yang melimpah. Karena itu wajar saja jika generasi muda jarang sekali yang memiliki cita-cita akan terjun ke blantika wirausaha.  

Padahal apa bila tahu bagaimana indahnya berwirausaha, maka dia akan lebih memilih jadi wirausahawan dibanding menekuni profesi lain. Lebih lagi dalam kondisi ekonomi serba sulit sekarang ini. Di saat kondisi ekonomi di negeri ini terpuruk, banyak profesi yang semula mampu mendatangkan finansial bagus ternyata dalam perkembangannya justru bagai telur di ujung tanduk.  Sebab jadi karyawan di sebuah instansi, ternyata belakangan ini rawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bahkan instansi yang selama ini masuk kategori “basah” karena gaji karyawannya rata-rata tinggi, yang semula dikira sangat mantap, juga tetap rentan PHK.  Wirausaha adalah satu-satunya profesi mandiri, yang kenal terhadap ancaman PHK. Mereka yang terjun di sektor wirausaha, sepanjang dia mau bias menekuninya terus, tidak ada yang bisa menjatuhkan vonis PHK kecuali dirinya sendiri.

Sebab seorang wirausahawan bias bertindak sebagai karyawan sekaligus manajer dan owner bagi usahanya, sehingga maju atau mundurnya usaha tersebut tergantung dari kesungguhan yang bersangkutan. Jika kancah bisnis tersebut dijalani dengan tekun, kerja keras, penuh semangat dan tidak  mudah putus asa, niscaya usaha tersebut pasti akan meraih  sukses.  

Melihat prospek dunia wirausaha, maka sudah saatnya anak-anak atau para remaja kita latih menjadi wirausahawan. Jiwa entrepreneur perlu kita tanamkan sejak usia dini, agar mereka kelak bisa menjadi wirausahawan yang handal. Jika sejak dini anak-anak sudah dilatih wirausaha, maka setelah dewasa kelak dia akan mampu menjadi seorang wirausahawan yang tegar, disiplin, pantang menyerah dan sukses dalam mengembangkan usaha.

Jiwa wirausaha inilah yang perlu kita tanamkan sejak dini, terhadap anak-anak kita yang nota bene generasi muda.  Untuk terjun ke kancah wirausaha sebetulnya tidak perlu menunggu seseorang sudah usia dewasa. Sejak masa kanak-kanak atau remaja, seyogyanya sudah mulai belajar menekuni wirausaha.

Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada usia 8 tahun  Muhammad sudah berkiprah menggembalakan kambing. Lepas dari profesi sebagai penggembala kambing, Nabi Muhammad lantas terjun sebagai pengusaha yang selalu jujur dan amanah. Bahkan pada saat usianya baru 12 tahun, Muhammad sudah mampu berdagang ke manca Negara yakni ke negeri Syiria. Dalam berdagang nabi selalu jujur. Karena kejujuran nabi, beliau lantas diberi gelar Al-Amin atau orang yang patut dipercaya.                   

Para orangtua yang sudah terjun di kancah wirausaha, sebaiknya melibatkan anak-anaknya dalam mengurusi usaha. Hal ini sebagai pengkaderan agar generasi muda kita kelak akan mampu meniti rumitnya dunia bisnis dengan baik. Agar anak-anak bersemangat untuk membantu bisnis yang dijalankan orangtua, mereka juga harus diberi imbalan layak berupa gaji. Dengan imbalan gaji yang diperoleh dari membantu orantua, niscaya anak-anak akan makin semangat ikut berlatih bisnis.

Read Full Post »

Oleh: Muhammad Zen 

Jurnalis TV, Penulis Buku, Trainer 

Anda ingin jadi wartawan ? Keinginan untuk jadi wartawan merupakan hal yang bukan tidak mungkin untuk direalisasi. Jadi wartawan itu gampang, asal tahu caranya.  Pasalnya, pada dasarnya semua orang bisa dan memiliki potensi jadi wartawan.

Semua orang asal memiliki niat yang serius dan berjuang keras merealisasikannya, pasti bisa jadi wartawan.  Asal seseorang bersedia bekerja  serius dengan menerapkan strategi yang tepat, maka dia akan dengan mudah jadi wartawan.

Menekuni profesi wartawan memang membutuhkan minat yang keras membaja, serta serta strategi yang jitu. Tanpa adanya dua hal tersebut, maka angan-angan untuk menjadi wartawan hanya akan tinggal angan-angan semata.  Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki, jika seseorang ingin terjun menekuni karir sebagai wartawan.

Di antaranya yakni memiliki potensi kecerdasan otak yang bagus, tangguh dalam bekerja, semangat hidup yang membaja dan pantang menyerah. Selain itu persyaratan lain yang harus dimiliki calon wartawan, yakni kondisi fisik yang prima serta mudah menjalin hubungan baik dengan segenap lapisan sosial.  

Potensi kecerdasan otak yang encer atau bagus memang mutlak dimiliki oleh seorang calon wartawan. Sebab saat membikin berita, seorang wartawan dituntut mampu menyajikan berita yang enak dibaca dan memikat orang. Dalam kondisi inilah. Kecerdasan seseorang mendapat ujian berat. Dia harus mampu menyajikan kalimat yang sederhana tapi memikat, menceritakan beragam perostiwa hasil liputan yang telah dilakukan.  

Tanpa adanya kecerdasan otak, seorang wartawan akan kebingungan saat membikin berita. Memang ada teori khusus untuk membikin berita tersebut, yang biasanya dipelajari di kampus yang mengkaji ilmu telekomunikasi atau ilmu jurnalistik. Namun apapun teori penulisan berita, semua wartawan tidak akan bias membuat berita yang baik, tanpa didukung dengan pemikiran yang cerdas.  

Seorang wartawan juga harus memiliki sikap tangguh dalam bekerja, karena pekerjaan dalam jurnalistik bukan pekerjaan enteng. Banyak pahit getir yang harus dirasakan, bagi seseorang yang terjun dikancah wartawan. Jika seorang mudah putuh asa lembek atau lemah, maka dia akan kerepotan jika terjun sebagai wartawan.  

Saat ditugaskan meliput berita didaerah terpencil misalnya, jelas dibutuhkan ketangguhan fisik bagi seorang wartawan. Demikian juga jika seorang wartawan diterjunkan dikawasan bencana, misalkan meliput bencana tsunami atau banjir besar, jelas dibutuhkan kondisi kesehatan yang benar benar prima.  

Meski demikian, kancah wartawan memiliki keasyikan sendiri seorang wartawan terjun ke lapangan, meliput kondisi bencana yang demikian dahsyat dan memprihatinkan, merupakan tantangan yang harus dijawab. Ketika wartawan tersebut mampu meliput secara maksimal maka yang bersangkutan akan mendapatkan kepuasan yang tak ternilai harganya. Lebih lagi jika hasil liputan wartawan tersebut mendapat pujian dari redaktur, atau mendapat tanggapan positif dari masyarakat luas. 

Bagaimana dengan Anda ? Apa tertantang dengan hiruk pikuk kancah wartawan ? 

Penulis bisa dihubungi di email: mhzen@yahoo.com atau mzenmzen@plasa.com

Salam Sukses Dari Kota Apel Malang 

Read Full Post »

Oleh: Muhammad Zen  

Jurnalis TV, Penulis Buku, Trainer   

Seseorang yang masih ragu terjun di bidang bisnis atau kancah wirausaha, seringkali khawatir dengan peluang usaha yang tersedia. Mereka berasumsi peluang usaha belakangan ini semakin hari semakin sulit, karena jumlah orang yang terjun di sektor usaha semakin bertambah. Sementara tingkat daya beli masyarakat cenderung stabil atau bahkan menurun, seirama dengan kondisi ekonomi bangsa ini yang masih kurang menggembirakan.  

Namun jika disimak dari dimensi positif, semua anggapan tersebut sebetulnya salah atau tidak benar. Sebab pada prinsipnya, peluang usaha itu selalu ada, atau selalu datang setiap saat. Di manapun kita berusaha dan kapanpun kita bias membuka usaha, asal dijalani dengan tekun dan penuh semangat, peluang pasti akan terus datang tanpa diundang.  

Kita tidak perlu khawatir atau bersikap pesimis, dengan kondisi peluang usaha yang ada. Peluang usaha akan datang dan datang lagi, di mana saja. Apakah kita membuka usaha di kota besar, di kota kecil atau bahkan di pelosok pedesaan sekalipun, peluang pasti akan muncul.  Karena itulah bagi mereka yang berniat terjun ke kancah bisnis atau usaha, tidak perlu pesimis dalam memandang peluang yang ada. Kita harus yakin bahwa peluang pasti ada dan jumlahnya banyak, sehingga usaha yang kita jalankan pasti bakal berhasil baik di masa mendatang.             

Binatang semacam laba-laba saja yang hanya berdiam dalam sebuah gua, juga memiliki peluang untuk mendapatkan rizki yang bias untuk dimakan. Asal seseorang giat berusaha, dengan membuka jaringan yang luas ke segala sektor, tentu saja peluang akan terbuka lebar dan berprospek cerah. Sehingga pada saat membuka usaha, buatlah jaringan seluas mungkin, dengan memanfaatkan seluruh kelebihan yang kita miliki.  

Satu hal agar peluang usaha makin berprospek, yakni jangan sekali-kali meremehkan order atau pesanan kecil. Jangan sampai Anda menolak order bisnis, kendati order tersebut jumlahnya relatif kecil. Sebab seringkali order yang kecil, jika diterima dan dilayani secara baik serta memuaskan, maka akan bisa mendatangkan order lain yang jumlahnya jauh lebih besar.  

Salah satu contoh, pemilik percetakan mendapatkan order membuat kartu nama. Karena order tersebut dikerjakan dengan bagus dan harga yang ditetapkan juga bersaing, maka pihak pemberi order sangat puas. Dampaknya justru datang order baru yang jumlahnya jauh lebih besar, hampir semua garapan cetak diorderkan ke percetakan tersebut, karena pemberi order kartu nama tersebut ternyata pimpinan proyek pengadaan di sebuah instansi penting di pemerintahan. 

Bagaimana menurut Anda ? Tak perlu pesimis dengan peluang usaha, karena peluang usaha bisa datang setiap saat, kapan saja dan di mana saja. 

Penulis bisa dihubungi di email: mhzen@yahoo.com atau mzenmzen@plasa.com

Salam sukses wirausaha 

        

Read Full Post »

Oleh: Muhammad Zen 

Pengamat Pendidikan, Jurnalis TV, Penulis Buku

Pada dasarnya program sertifikasi guru memiliki tujuan mulia. Kalangan guru pun banyak yang menyambutnya dengan perasaan gembira. Mereka sangat bersemangat untuk segera mendapatkan sertifikasi. Bukan rahasia lagi, kalau semangat itu dipicu oleh keinginan mendapatkan kompensasi kenaikan penghasilan satu kali gaji pokok.  

 Namun banyak juga kalangan guru yang memandang secara kritis. Mereka beralasan bukankah menjadi guru telah melewati uji kompetensi dan kelayakan? Apakah jika tidak bersertifikasi, seseorang guru tak berhak mengajar atau diragukan kualitas mengajarnya ?  Bukankah juga tak ada penjenjangan sertifikasi guru? Semisal jenjang 1 hingga 3. Setiap kenaikan jenjang, guru diuji lagi. Dengan begitu guru terus berusaha berprestasi.

Tapi yang terjadi saat ini tidak demikian. Sekali menyabet sertifikasi, seumur hidupnya diakui sebagai guru profesional dan berhak tunjangan tambahan. Dengan begini, seorang guru yang sudah berhasil mengantungi sertifikasi, pastilah bakal enak-enakan tanpa harus bersusah payah lagi meningkatkan kualitas dirinya. Dalam hati si guru bersertifikasi, akan selalu berujar ; sudah dapat sertifikasi yang berarti diakui secara formal oleh pemerintah, ya sudah. Buat apa belajar sepanjang hayat, toh gaji sudah bertambah. 

Kalau sertifikasi hanya untuk menambah kesejahteraan guru, percuma saja. Tak ada jaminan mutu pendidikan bakal ikut membaik. Hal ini jika dalam program sertifikasi, tak disertai program untuk meningkatkan kompetensi guru.

Namun program sertifikasi ini akan mampu menciptakan guru berkualitas, jika ada upaya terus meningkatkan kompetensi guru, meski sudah lulus sertifikasi.  Target pencapaian skor 850 poin pada portofolio guru, bisa jadi sangat rawan dimanipulasi. Terutama pembuktian mengikuti suatu kegiatan ilmiah yang hanya didasarkan lewat selembar sertifikat kesertaan.

Dalam sosialisasi sertifikasi di suatu daerah, pernah anggota tim asesor menyampaikan nasihat yang naif, unik, menggelitik. Katanya, kegiatan seminar bisa direkayasa.  Caranya, bentuk sebuah panitia seminar fiktif di tingkat kabupaten atau kecamatan. Kemudian bagi-bagikan sertifikat kepada guru yang membutuhkan. Maka tanpa hadir di kegiatan seminar, mereka sudah dapat kredit poin. Dalam sebulan, bisa saja seseorang memperoleh beberapa sertifikat ‘seminar-seminaran’ sebanyak dia sanggup membelinya. Lucu kan?    Tak dapat dipungkiri program sertifikasi, telah memunculkan banyak kegiatan akal-akalan.

Contoh lain, banyak guru yang kini sibuk membuat modul pembelajaran. Kalau saja bersumber dari hasil pemikiran sendiri, tak masalah. Karena memang seharusnya begitu. Tapi yang menjadi persoalan, banyak yang asal comot sana comot sini.  

 Kalau cara-cara memperoleh sertifikasi seperti itu, apa mungkin bisa diharapkan mutu pendidikan di Indonesia akan semakin baik. Kalau gurunya saja curang, bagaimana muridnya kelak? Kata ungkapan peribahasa, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Semoga tak terjadi.   

Read Full Post »

Oleh: Muhammad Zen 

Agar pelaksanaan sertifikasi guru berjalan menurut rel yang lurus, diperlukan transparansi informasi dan seluk beluk mekanismenya. Semuanya harus gamblang sejak proses penunjukan LPTK, penentuan kriteria, tatacara pengajuan dan penetapan sertifikasi, hingga informasi mengenai prioritas guru yang memenuhi syarat.  Para guru bersama berbagai elemen lain di masyarakat, perlu mengawal dan mengawasi secara ketat program ini.

Setidaknya ada tiga titik rawan penyimpangan yang musti diwaspadai. Ketiga titik itu, yakni, pertama pada tahap penetapan kuota guru yang berhak mengikuti sertifikasi.  Penetapan kuota ini, berpotensi memunculkan perebutan diantara guru. Sebab jumlah guru yang ingin mendapat sertifikasi, jauh di atas angka kuota yang ditetapkan di setiap tahun anggaran.  

Di aspek ini, kewenangan dalam menentukan urutan daftar guru, ada di tangan pemerintah daerah atau Diknas setempat. Disini terbuka kemungkinan munculnya jual beli daftar tunggu.  Para pihak yang berpotensi terlibat KKN, akan berkisar di tangan guru, kepala sekolah, pengawas, dan pejabat Diknas.   

Kewaspadaan kedua ditujukan pada pelaksanaan proses penunjukan LPTK sebagai lembaga yang berhak melakukan uji sertifikasi, oleh Depdiknas. Jual beli tender untuk mendapatkan legitimasi Diknas, tak mustahil dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki LPTK. Anggaran besar yang disediakan pemerintah untuk program ini, menjadi motivasi utama terjadinya praktik KKN. 

Selanjutnya pengawasan ketat juga harus dilakukan pada aspek pelaksanaan proses sertifikasi di tingkat LPTK itu sendiri. Disini sangat terbuka peluang jual beli sertifikat kepada guru. Lagi-lagi, hukum bisnis dapat berlaku pada program ini. Karena sudah kepalang mengeluarkan modal untuk mendapatkan legitimasi Diknas, LPTK tak segan menerima suap guru. Bagi guru sendiri, hanya dengan mengeluarkan modal sekali, maka gaji terus bertambah seumur hidup.  

Pengawasan memang seyogyanya dilakukan dengan sangat ketat. Mengingat, sejauh ini proses di tiga tingkat atau aspek tersebut, masih kurang transparan dan bahkan cenderung tertutup. Jangan sampai terjadi, proyek yang dianggarkan menelan anggaran Rp 3,45 triliun ini, tak memenuhi rasa keadilan bagi 2,3 juta guru yang mengantri untuk mendapatkan sertifikasi.

Read Full Post »

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Read Full Post »