Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2008

Yang namanya tanggal tua, rata-rata orang (termasuk saya) sering mengalami krisis finansial. Mau belanja ini itu, termasuk belanja buku harus dihemat. Sebab masih banyak keperluan lain yang mendesak dan harus lebih diprioritaskan.

Di saat kondisi seperti itu, saya membuka www.webersis.com dan tiba-tiba mendapat info bahwa uang hadiah menang lomba, sebagai Juara I lomba menulis “Pengalaman Sebagai Penulis” sudah ditransfer ke rekening bank. Lomba itu diselenggarakan oleh www.webersis.com dan www.menulismudah.com.

Besuknya saat sudah sore hari, saya coba mampir ke ATM BCA. Syukur Alhamdulillah ternyata kiriman hadiah memang sudah sampai. Hadiah tersebut sebesar Rp 1 Juta, dikurangi pajak 15 % sehingga bersih yang saya terima Rp 850.000.

Mengapa baru besuk sorenya ke ATM ? Karena belakangan ini super sibuk, selain karena lagi banyak berburu berita bagus untuk konsumsi TV, juga lagi “berburu” distributor buku yang memiliki jaringan luas, untuk memasarkan buku saya yg self publishing. Kisah berburu distributor buku cukup unik, awalnya agak sulit, tapi begitu dapat justru 2 distributor (dua-duanya memiliki jaringan bagus dan skalanya amat luas). Satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya, akhirnya saya pilih yg di Surabaya. Tapi nanti ya saya ceritakan lengkap.

Ok, datangnya hadiah uang menang lomba menulis tersebut, amat bernilai dan patut saya syukuri. Lebih lagi di tanggal super tua. Alhamdulillah, semoga membawa barokah. Amin….      

Read Full Post »

      Terjun di kancah Self Publishing alias menerbitkan buku karya sendiri, bisa dibilang gampang-gampang susah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, dan juga tergantung bagaimana kita menempuh strategi pemasaran buku tersebut.        

       Terkait strategi pemasaran buku, saya menemukan fakta baru bahwa ternyata pemasaran buku bisa dibagi dua. Yang pertama yakni pemasaran ala konvensional atau pemasaran “model biasa” alias “pemasaran gaya ningrat”. Kemudian pemasaran model kedua yakni pemasaran ala “perang gerilya” alias pemasaran ala koboi.        

       Pemasaran konvensional atau pemasaran model biasa (model yang lazim) yakni selesai buku dicetak, pihak penerbit menyalurkan pemasaran bukunya via distributor buku. Pihak distributor buku yang akan mendistribusikan buku tersebut ke berbagai toko buku di tanah air, dan pihak penerbit tinggal menunggu laporan bulanan serta pencairan dana dari pihak distributor.        

       Model pemasaran ini saya katakana pemasaran biasa, karena memang kebanyakan penerbit kecil (self publishing) melakukan hal ini. Model pemasaran ini juga saya sebut “pemasaran bergaya ningrat” karena peta marketing diserahkan sepenuhnya ke distributor, lantas pihak pengelola penerbitan tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu laporan distributor.        

       Adakah yang salah dengan model ini ? Tidak ada yang salah. Namun untuk cetakan pertama buku saya yang berjudul: “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”, model pemasaran ala ningrat ini belum saya lakukan. Mengapa demikian ? Karena perputaran dananya akan sangat lambat, bisa jadi lebih dari 3 bulan atau bahkan setengah tahun baru ada kucuran dana dari distributor.        

       Karena itulah saya lantas menempuh pemasaran cara kedua: yakni pemasaran ala koboi atau pemasaran ala “perang gerilya”. Model pemasaran ini kita dituntut aktif untuk memasarkan sendiri (atau via orang-orang kita) ke konsumen langsung atau ke instansi yang terkait dengan materi yang kita tulis dalam buku.        

      

       Karena buku tersebut berisi “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”, maka konsumennya tentu saja guru dan instansi yang terkait yakni Dikbud atau Dinas Pendidikan di berbagai daerah. Syukur alhamdulillah, strategi pemasaran langsung ke guru atau via Dinas Pendidikan ini, ternyata cukup bagus. Buktinya, belum sebulan buku tersebut beredar, stok buku tinggal sedikit (cetakan pertama 2.000 eks). Dari hasil pembelian kontan pihak guru / instansi Dinas Pendidikan,  uang yang masuk jumlahnya sudah lumayan sehingga bisa untuk segera cetak ulang.        

      

       Cetakan kedua 16 Februari kemarin sudah selesai (juga cetak 2.000), sehingga kini stok buku jumlahnya lumayan. Baru setelah cetakan kedua ini selesai, rencana pemasaran menggunakan 2 strategi. Yakni pemasaran ala “perang gerilya” tetap jalan, tapi mulai menginjak ke pemasaran “gaya ningrat” alias lewat distributor buku.       

       Capek memang, tapi asyyiiiik. Alhamdulillah       

Read Full Post »

      Ada pengalaman yang menarik, saat saya terjun pertama kali di kancah penerbitan, dengan menerbitkan buku karya sendiri alias “self publishing”. Buku tersebut berjudul: “Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU”, yang memang diperuntukkan bagi guru-guru yang sedang bersiap mengikuti program sertifikasi.        Buku yang naik cetak pada akhir Desember 2007 yang lalu itu, memiliki kisah yang agak unik. Buku tersebut merupakan karya kedua saya, namun pengalaman pertama bagi saya di “self publishing”.       

       Sebelum menentukan percetakan mana yang diberi order, saya sempat survey sekitar 5 percetakan, semua di kawasan Kota Malang. Dari sejumlah percetakan tersebut, harga atau biaya cetak buku yang ditawarkan amat bervariasi.       

       Variasi harga cetak buku ini, terkait dengan berapa eksemplar buku tersebut dicetak, ukuran buku gimana, kertas ukuran berapa gram dan beragam tetek mbengek yang lain. Termasuk di halaman dalam ada gambar atau tidak, jika ada gambar maka gambar tersebut warna atau tidak dll.       

       Singkat kata, buku yang saya terbitkan yakni memiliki spesifikasi: ukuran 19 cm x 12,5 cm, tebal 144 halaman, kertas dalam 80 gram, cover full color dan halaman dalam tidak ada foto.        

       Dari spesifikasi tersebut, harga cetak buku yang ditawarkan amat timpang. Jika buku tersebut dicetak 500 eksemplar maka biaya cetaknya relatif tinggi yakni Rp 8.500 per-eks. Jika dicetak 1.000 eksemplar harganya Rp 6.000 per-eks. Namun jika dicetak 2.000 eksemplar atau lebih, maka harga cetaknya menurun hingga tinggal Rp 4.500 per-eks.       

       Mengapa demikian ? Hal ini karena saat cetakan pertama, harus menanggung biaya plat atau biaya master cetak.       

       Karena itu akhirnya saya pilih cetak 2.000 eksemplar, namun kini sudah hampir habis. Pekan lalu saya cetak ulang (cetakan kedua), dan Sabtu siang tadi sudah selesai. Alhamdulillah, mohon doa restu, semoga cetakan kedua ini bisa laris maniiiiss. 

          

Read Full Post »

Sejak akhir Desember tahun 2007 yang lalu, saya berusaha mendirikan penerbitan buku. Penerbitan buku dengan pola “self publishing” tersebut, saya beri nama: Cakrawala Media Publisher.

Terkait nama penerbitan, semula mau pakai nama: Cakrawala Publishing. Namun ternyata nama tersebut sudah dipakai oleh penerbitan lain. Agar tidak kembar, maka muncullah nama: Cakrawala Media Publisher.

Munculnya penerbitan ini, bisa dikatakan bermodal nekat. Meski bermodal nekat, namun sebelumnya saya juga tetap belajar bagaimana liku-liku penerbitan buku. Ada 2 hal yang saya tempuh saat belajar berbagai hal terkait penerbitan buku.

1. Saya belajar lewat teori cara-cara menerbitkan buku, yang telah ditulis sejumlah orang yang sudah berpengalaman. Untuk bisa belajar, tentu saja harus mengeluarkan biaya. Namun tidak banyak. Tercatat saya menghabiskan dana Rp 150.000 untuk membeli e-book, yang dijajakan via internet. Yang pertama yakni e-book karya Abu Al-ghifari alias Toha Nasrudin yang telah pengalaman mengelola Mujahid Press (harga e-book sekitar Rp 100.000). Yang kedua yakni e-book karya Mas Jonru, pendiri penulis.lepas com (harga sekitar Rp.50.000)

2. Meski sudah belajar teori, namun saya masih harus survei lapangan. Tujuannya agar teori yang ada di e-book, bisa sinkron dengan kenyataan di lapangan. Sejumlah pihak saya datangi, baik kalangan toko buku maupun penerbitan yang sudah jalan. Saya tidak sulit untuk menembus komunitas toko buku dan penerbit, karena latar belakang saya jurnalis. Saya akhirnya tahu jalur-jalur distribusi buku, termasuk prosentase alias jatah komisi bagi distributor buku.    

Setelah ada sinkronisasi antara teori dan praktek lapangan lewat survei, akhirnya saya memberanikan diri menerbitkan buku karya saya sendiri.

Buku tersebut saya beri  judul: Kiat Sukses Mengikuti SERTIFIKASI GURU.  Syukur alhamdulillah reaksi pasar, khususnya pemasaran di kalangan guru, cukup bagus.

Untuk cetakan pertama, stok yang ada sudah hampir habis. Saat ini sedang proses cetak ulang (cetakan kedua), insya Allah selesai Sabtu depan.

Bagaimana strategi menembus pasar perbukuan ? Berapa modal yang dibutuhkan ? Ikuti tulisan saya berikutnya. (Maaf sampai sini dulu, krn ada liputan menarik)

                      

    

Read Full Post »

Sejumlah rekan penasaran dengan tulisan saya yang terpilih sebagai Juara I lomba menulis “Tentang Pengalaman Menulis”, yang diadakan www.menulismudah.com dan www.webersis.com . Agar tidak lagi penasaran, berikut ini saya kutipkan naskah tulisan saya tersebut.  

Naskah ini sebetulnya sudah dimuat di 2 website tersebut, sejak akhir Desember lalu. Namun pengumuman juara sekitar tgl 6 atau 7 Februari kemarin. Berikut kutipan naskah selengkapnya:

   

Menulis Untuk Biaya Kuliah

MENULIS merupakan satu kata yang amat bermakna dalam kehidupan saya. Dengan berkiprah di kancah tulis menulis, kehidupan yang saya jalani bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Mengapa demikian? Gara-gara menulis, kondisi kehidupan saya yang berasal dari keluarga miskin, mampu terkatrol fantastik sehingga sukses kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri karismatik di tanah air.

Saya lahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, di Desa Sinanggul, Jepara Jawa Tengah. Usai menamatkan SLTA saya dengan “bondo nekat” memberanikan diri mendaftar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat itu tahun 1980 seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN menggunakan istilah Proyek Perintis, UGM Yogyakarta masuk Proyek Perintis I (semacam SPMB saat ini). Alhamdulillah diterima menjadi mahasiswa Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta.

Satu semester berlalu, kondisi keuangan keluarga amat menipis. Maklum ayah seorang Modin di desa dengan penghasilan yang relatif pas-pasan. Menginjak semester dua, lebih memprihatinkan, kelangsungan kuliah terancam putus. Dilema menghadang: saya harus kerja untuk menyambung hidup di Yogyakarta atau meneruskan kuliah.
 
Saya berniat melamar jadi pegawai Pom Bensin (SPBU) di kawasan Terban Taman. Lantas mencari informasi di mana rumah pemilik SPBU tersebut. Dengan tekad yang membaja, mendatangi rumahnya. Di trotoar depan rumah pemilik SPBU tersebut pikiran berkecamuk. Jika jadi pegawai SPBU dan sibuk bekerja, lantas bagaimana kuliah? Jika tidak bekerja, bagaimana membiayai hidup di rantau? Niat tersebutsaya urungkan.
     
Esok paginya, di Harian Kedaulatan Rakyat,  terpampang artikel tentang Pancasila yang ditulis seorang kolumnis. Isinya jauh berbeda dengan pemahaman saya, nurani saya berontak. Sang kolumnis, mengkritisi kondisi budaya dan Pancasila secara sepihak. Saya menulis artikel tandingan, dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran baru terkait Pancasila dan kondisi budaya Indonesia. Saya bisa menulis artikel Pancasila dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan populer, karena kuliah saya di Fakultas Filsafat memang banyak menyoroti tentang Filsafat Pancasila.
 
Tanpa diduga, berselang satu hari, artikel saya tulis tersebut dimuat Kedaulatan Rakyat. Artikel tersebut merupakan momentum yang sangat penting dalam hidup saya. Ada tiga hal yang bisa saya catat.
 
Pertama, tanggapan dari rekan-rekan mahasiswa dan dosen di kampus, luar biasa. Mereka menyambut antusias. Lebih lagi, saya merupakan satu-satunya mahasiswa junior mampu menembus koran. Para dosen juga sangat setuju dengan dengan ide-ide saya terkait dengan budaya nasional dalam kaitannya dengan pengembangan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
 
Kedua, secara pribadi sangat puas, memperoleh honor Rp7.500. Sungguh jumlah luar biasa. Harga nasi sepiring di Yogyakarta, khususnya di kalangan mahasiswa kos-kosan sangat murah, sekitar seratus rupiah sepiring (sudah termasuk lauk ala kadarnya).
    
Dengan demikian honor satu artikel sebanding dengan 75 piring nasi. Artikel tersebut, saya buat dalam tempo sekitar tiga jam, dengan mesin ketik butut pinjaman teman satu kos.
 
Ketiga, dengan dimuatnya artikel tersebut, membuka mata, saya mampu menulis. Profesi sebagai penulis yang sebelumnya jauh dari angan-angan. Anggapan saya ‘mampu menjadi penulis’ amat penting dan bermakna bagi kehidupan saya.
 
Sukses menulis artikel pertama, membuat saya ketagihan. Tentang apa saja saya tulis. Artikel-artikel saya berikutnya, sebagian besar dimuat di sejumlah media massa, meski ada sekitar empat puluh persen dari artikel tersebut gagal tayang di media.
 
Menghadapi kenyataan, ada artikel yang ditolak, saya sabar. Saya pernah bertemu dengan seorang redaktur koran, dia mengatakan, kiriman artikel dari luar jumlahnya sangat banyak. Karena itulah kompetisi atau seleksi artikel sangat ketat.
 
Saya terus menulis dan menulis. Honor  menulis saya gunakan untuk biaya kuliah. Untuk menggali ide-ide segar ke perpustakaan, membaca koran atau majalah serta bergaul dengan sejumlah komunitas; teman-teman di senat mahasiswa, maupun di organisasi ekstra kampus. Dari interaksi itulah, banyak menemukan ide-ide untuk artikel.
 
Dalam kaitannya dengan kelancaran kuliah, sangat tertolong. Seorang dosen yang cukup disegani, Prof. Dr Kunto Wibisono pernah menyatakan, jika ada mahasiswanya yang mampu mengangkat materi kuliah dipadu kondisi aktual lantas bisa termuat di media massa, tanpa ujian pun diberi nilai minimal B. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai A.
 
Satu hal yang sangat istimewa, menulis artikel juga bisa menjadi prasasti unik bagi wisuda saya. Saya mengikuti wisuda sarjana di UGM pada tanggal 18 agustus 1984, sebagai wisudawan dengan nilai tertinggi dan waktu studi tercepat. Saya ingin agar pada hari saya diwisuda, artikel saya bisa dipampang di koran terbesar terbitan Yogyakarta. Beberapa hari sebelum wisuda, saya mencari bahan tulisan terkait dengan tanggal 18 agustus, tanggal wisuda tersebut.
 
Proklamasi Kemerdekaan RI dilakukan 17 Agustus 1945, namun ternyata berbagai perangkat yang harus dimiliki sebuah Negara dilakukan pembahasannya pada tanggal 18 Agustus 1945. Momentum mengenang 18 Agustus saya angkat untuk sebuah artikel, dan saya beri keterangan untuk dimuat pada tanggal 18 Agustus 1984. Redaktur Opini harian Kedaulatan Rakyat setuju. Terbit tanggal 18 Agustus 1984, bersamaan dengan hari saya diwisuda sarjana.
 
Yang membuat artikel tersebut tidak bisa dilupakan, di akhir tulisan diberi catatan, “penulis hari ini di wisuda sarjana di kampus UGM”.
 
Berkat modal kemampuan menulis, mulai semester dua hingga wisuda sarjana, artikel-artikel saya sudah menembus  sekitar sepuluh media masa di tanah air. Inilah suatu bukti bahwa menulis merupakan hal yang luar biasa, karena dengan menulis bisa membiayai kuliah hingga sarjana.
 
Usai wisuda sarjana, kancah pekerjaan yang saya tekuni hingga saat ini juga masih terkait dengan tulis menulis. Awalnya saya diterima di majalah Kartini. Tahun 1988 pindah ke Malang sebagai wartawan Suara Karya untuk wilayah Jatim.
 
Setelah lama bekerja di majahah dan surat kabar harian, tahun 1995 jadi jurnalis di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mulai bulan Mei tahun 2007 hingga sekarang, mengemban amanah sebagai jurnalis di MNC Grup (TPI, RCTI  dan Global TV ) untuk wilayah Kota Malang Jawa Timur.

=============== 

DAFTAR ULANG (Pemenang, Juara I)

Muhammad Zen lahir di Jepara Jawa Tengah, 4 Juli 1960. Alumni Jurusan Filsafat Barat Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, lulus 1984. Saat wisuda terpilih sebagai wisudawan dengan nilai terbaik dan waktu studi tercepat di fakultas.

Saat kuliah pernah terpilih sebagai Mahasiswa Teladan. Kegemaran menulis dimulai sejak kuliah. Saat kuliah artikel-artikelnya tembus di sekitar 10 media massa pusat dan daerah.

Pernah bekerja sebagai wartawan Majalah Kartini di Jakarta, serta pernah jadi Kordinator Wartawan Harian Suara Karya Perwakilan Jatim.

Kini jadi Jurnalis di MNC Grup (RCTI, TPI dan Global TV) untuk wilayah Kota Malang Jawa Timur.
Alamat rumah: Perumahan Bunul Asri Blok B-17 Malang.

Buku ini yang telah ditulis:
1. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru, Cakrawala Media Publisher, Malang, Desember 2007
2. NU Pasca Khittah, Prospek Ukhuwah Dengan Muhammadiyah, MW Mandala Yogyakarta, 1992 (bersama Khoirul Fathoni).

Muhammad Zen bisa dihubungi melalui email: mhzen@yahoo.com atau mzenmzen@plasa.com. hp: 08123383495

https://mhzen.wordpress.com
http://mzenmzen.multiply.com
 

Read Full Post »

Syukur Alhamdulillah, saya berhasil memenangkan lomba “menulis Pengalaman Jadi Penulis” yang diadakan oleh www.webersis.com dan www.menulismudah.com. Lomba tersebut entah kapan mulai dibuka (sy lupa) tapi ditutup pada 31 Desember 2007 lalu, diikuti  sekitar 330 (atau lebih) peserta dari berbagai kawasan.

Bulan Januari kemarin diumumkan 32 nominator, dan kemarin diumumkan pemenangnya. Alhamdulillah saya menang. Ini merupakan amanah dan semoga bisa jadi barokah untuk dunia akhirat.

Adapun pengumuman selengkapnya dari panitia yakni:

Juara Lomba Menulis 2008

3 February 2008 | Kategori Lomba Menulis | 2 Comments »

Lihat juga di www.webersis.com 
Juara I : Menulis Untuk Biaya Kuliah, Muhammad Zen, Rp1.000.000,00
Juara 2 : Indahnya kegagalan, Fanny Widadie, Rp750.000,00
Juara 3 : Dan Malikatpun Menulis, , Rp500.000,00   
Harapan : Mungkinkah Babu Menulis, Rp100.000,00
Harapan : Neuron Menulis Adalah Kehidupan, Rp100.000,00
Harapan : “Dance With My Dream”, Rahmadona Fitria, Rp100.000,00

Bagi pemenang dan nominator yang tidak ‘daftar ulang’ dengan mengirim riwayat ringkas dan nomor rekening bank, paling lambat 10 Februari 2008, jam 00.000, dibatalkan sebagai pememang.

Posisi Nominator Lengkap pada naskah buku Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen. Silahkan cek di www.webersis.com.

PENGHARGAAN … vii
PENGANTAR Syamsuwal Qomar: Berani Menulis … xi 
DAFTAR ISI … xv

BAB I PENDAHULUAN: MENULIS BAK BERSENDA GURAU … 1
 1.1 NYAMAN MENULIS MENYAMANKAN MENULIS … 3
     Ersis Warmansyah Abbas (Bukan peserta lomba)
 1.2 Menulis Melawan Lupa … 9
     Sandy Firli (Bukan peserta lomba)

BAB II  MELAWAN DIRI MERAUP KAYA … 13
 2.1 Mungkinkah Babu Menulis … 15
 2.2 Dihujat Sang Master … 21
       Dodi Mawardi 
 2.3 Hujatan yang Mujarab … 25
 2.4 Menulis Karena Tekanan … 29
 2.5 Indahnya Kegagalan … 33
       Fanny Widadie
 2.6 Dimulai dari Pengetik Rental … 37
       Didik Durianto

BAB III MEMAKNAI DIRI MERAKIT KARYA … 41
 3.1 Berawal dari Sebuah Khayalan … 43
 3.2 Ingin Seusia Dunia … 49
 3.3 Dance With My Dream … 53
       Rahmadona Fitria
 3.4 Ketika Cemas Menjadi Senyum … 57
 3.5 Menulis Karena Panggilan Jiwa … 61
       Syaharuddin
 3.6 Perjalanan Kata-Kata … 65
 3.7 Neuron Menulis Adalah Kehidupan … 71
 3.8 Tiba-Tiba Saja Saya Menulis … 75

BAB IV  BERKARYA MENUAI HATI … 81
 4.1 Sepatu dari Menulis … 83
       Sindu Putra
 4.2 Menulis Membahagiakan … 87
       Harmita Desmerry
 4.3 Malaikat pun Menulis … 93
 4.4 Aku Menulis, Maka Aku Ada… 99
 4.5 Saya Menulis, Maka Saya Ada … 103
 4.6 Senjataku Menulis … 109
 
BAB V  MENATAP DIRI MERAIH HARAP … 113
 5.1 Menulis Untuk Biaya Kuliah … 115
       Muhammad Zen
 5.2 Menulis Untuk Perubahan … 121
 5.3 Durian Pembawa Hoki … 127
 5.4 Tentang Tulisan Pertama Saya … 131
 5.5 Motivasi, Stimulasi dan Emosi … 137
 5.6 Sang Mata-Mata Kehidupan … 143
       Anindita Siswanto Thayf
 5.7 Kritiklah dengan Tulisanmu … 149
       Ahmad Rizky M.U

BAB VI   MENANYA MAU MENGANYAM KATA… 155
 6.1 Berawal Dari Kekerasan di STPDN … 157
       Dewi Rieka Kustiantari
 6.2 Karena Saya Harus Menulis … 163
       Siti Mashunah
 6.3 Menulis, Menulis, Menulis … 169
       Diyan Nur Rakhmah Wisudawati
 6.4 Keampuhan 3M… 173
       Lalu Abdul Fatah
 6.5 Menulis Seperti Mengiris Bawang… 177
 6.6 Terbanglah Kupu-Kupu … 181
 
PENGAKHIR: Rahayu Suciati
 Menulis: Proses Penemuan Diri … 185

Read Full Post »