Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2008

“Sikap Nekat” penulis yang menerbitkan buku sendiri, alias self publishing, memang selalu memantulkan kisah menarik. Banyak hal yang bisa diceritakan, dan kisah jadi penerbit ini tentu saja merupakan hal baru bagi seorang penulis.

Setelah naskah siap cetak, maka memilih percetakan bukan hal yang sulit. Sebagai penerbit, kita bisa memilih percetakan yang sesuai. Dalam arti sesuai antara harga dan kualitas. Saat berhubungan dengan pihak percetakan, maka yang perlu kita bicarakan adalah masalah kertas cover (kualitas kertas dan berapa gram), juga kertas di halaman dalam pakai berapa gram. Ukuran buku juga perlu dibicarakan detail.

Usai buku dicetak, yang memakan energi seringkali yakni berburu Distributor buku yang bagus. Alamat distributor buku ini bisa kita peroleh dari buku (sejumlah buku kadang mencantumkan alamat dan tlp distributornya). Alamat distributor buku ini juga bisa diperoleh dari pencarian via internet, dengan memasukkan kata kunci “distributor buku”.

Untuk buku saya berjudul: KIAT SUKSES MENGIKUTI SERTIFIKASI GURU, saya percayakan ke Distributor di Surabaya. Peredaran lewat distributor ini untuk menjangkau toko buku di berbagai daerah di tanah air. Namun karena buku tersebut banyak dibutuhkan para guru, sejumlah Kantor Dinas Pendidikan dari berbagai daerah, minta dikirim langsung. Bahkan belakangan ini banyak panitia Seminar Guru / Panitia Seminar Sertifikasi, yang langsung kontak ke HP saya ( 08123383495 ) yang minta dikirim buku dalam jumlah banyak dan biasanya saya kasih diskon spesial.

Semua itu mengasyikkan, karena kita yang semula jadi penulis jadi tahu liku-liku jaringan peredaran buku. Yang lebih penting, jika self publishing maka keuntungan kita jauh lebih banyak. Bayangkan, jika naskah kita diterbitkan pihak lain, sekali cetak untung Rp 12,5 juta, maka porsi penulis hanya Rp 2,5 juta dan porsi penerbit Rp 10 juta. Namun jika self publishing, maka Rp 12,5 juta tersebut jadi milik kita.

Adakah sisi negatifnya ? Ternyata ada. Karena terlalu asyik mengurusi jaringan distribusi, kadang kita jadi “kurang produktif menulis” untuk sementara waktu. Ini wajar dan merupakan resiko seorang penulis yang “self publishing”.

Read Full Post »

Menerbitkan buku sendiri alias “Self Publishing” ternyata memiliki beragam sisi positif dan negatif.  Bagi seorang penulis, kiprah menerbitkan buku karyanya sendiri, memunculkan sederet sisi positif. Sisi positif self publishing ini amat banyak, sehingga mungkin tidak cukup jika hanya dibahas dalam satu kali tulisan.

 

Di antara sisi positif tersebut, yakni dengan Self Publishing seorang penulis akan mampu jadi manajer bagi peredaran buku yang ditulisnya sendiri. Lain lagi jika tulisan kita tersebut diterbitkan oleh penerbit lain, maka yang menghandel marketing, distribusi dll adalah pihak penerbit tersebut. Namun jika kita lakukan Self Publishing maka semua itu kita sendiri (atau orang-orang kita) yang menangani.

 

Mulai dari urusan nomor ISBN, mengurus tata letak buku, mencetak buku, hingga distribusi dan pemasaran buku, kita sendirilah yang mengurus. Namun dalam hal ini bukan berarti kita harus menangani sendiri, tetapi bisa juga kita percayakan ke orang-orang yang sudah ahli, namun tetap di bawah kendali kita.

 

Dalam kaitannya dengan  mengurus ISBN misalnya, kita bisa menangani secara langsung. Jika mau mengurus secara langsung, maka mengurusnya di Kantor Perpustakaan Nasional Pusat, di Jalan Salemba Raya Jakarta. Ongkosnya tidak mahal yakni hanya Rp 60.000 per-buku (termasuk barcode). Meski ongkos tidak mahal, namun bagi penulis di daerah maka ongkos dari daerah ke Jakarta yang jauh lebih mahal.

 

Karena itulah, untuk penetbitan yang saya kelola, pengurusan ISBN saya percayakan ke seorang teman yang tinggal di Jakarta. Masalah kompensasi dana atau uang lelah, bisa kita rundingkan secara kekeluargaan. Yang penting kita bisa lancar memperoleh ISBN. Strategi  ini menurut saya lebih efektif, dibanding kita mengurus sendiri ke Jakarta, yang tentu butuh biaya transportasi lebih besar (untuk mengurus ISBN biasanya saya mengurus 3 buku sekaligus, agar lebih efektif).

     

Masalah tata letak buku atau desain sampul buku kita ? bisa juga kita percayakan ke orang lain. Misalnya kita bisa minta tolong ke pegawai bagian tata letak koran lokal di kota kita. Pegawai ini biasanya profesional sebab sehari-harinya memang mengurusi tata letak. (bersambung)

   

Read Full Post »