Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Menulis merupakan kegiatan ringan namun berdampak luar biasa dalam kehidupanseseorang. Seorang tokoh yang pandai menulis dan gemar menulis, akan terus dikenang oleh generasi-generasi sesudahnya, meskipun tokoh yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sepanjang tulisannya masih bermanfaat dan masih dibaca orang, maka tokoh yang telah wafat tersebut akan terus dikenang orang.  

Kegiatan menulis juga merupakan salah satu hal  yang amat menyenangkan, serta bisa mendatangkan imbalan finansial dan non finansial. Banyak orang yang merasa hidupnya lebih bermakna dengan aktif menulis. Dengan produktif menulis, seseorang akan lebih bergairah dalam hidupnya. Semangat hidup seseorang akan terus terjaga, jika orang tersebut rajin menganalisa dan menuangkan hasil analisanya dalam sebuah tulisan.

Hanya saja di sisi lain aktifitas menulis juga  banyak sekali hambatannya. Banyak orang yang berniat menulis, misalnya ingin menulis artikel ilmiah, menulis buku ilmiah atau menulis novel dan cerpen, namun hanya sebagian yang mampu merealisasikan niat tersebut. Seringkali niat untuk menulis, hanya sekedar “niat” atau keinginan semata-mata. Hanya orang-orang yang punya sikap serius dan ulet, yang mampu merealisasikan “niat menulis” jadi tulisan yang riil. 

Ada orang hanya berniat dan berniat saja menulis, namun belum juga tergerak untuk merealisasikan menulis. Mereka kadang beralasan besok sajalah, sekarang masih repot, masih sibuk. Besuk saja saya akan membuat tulisan terbaik, yang akan bisa best seller dan mampu mengalahkan tulisan penulis lain.

Tetapi esok hari juga beralasan “besok saja” sehingga tulisan yang diinginkan  tak kunjung jadi. Selama orang yang mau menulis tersebut terus menunda-nunda aktifitas menulis, maka dia tidak akan jadi menulis. Intinya seseorang seringkali memiliki kecenderungan “menunda menulis” dan menunda lagi, sehingga ide menulis tersebut tetap hanya tinggal ide saja. Inilah salah satu hambatan atau kendala bagi seseorang yang ingin menulis, baik menulis artikel maupun menulis buku.  

Sibuk atau repot karena sedang mengerjakan sesuatu, seringkali menjadi alasan paling masuk akal bagi kita untuk menunda menulis. Apabila hal  ini dituruti, kemungkinan yang terjadi yakni tulisan kita tak akan selesai, dan sampai kapanpun rencana kita untuk menulis buku atau menulis artikel  tidak akan jadi kenyataan. Sebab kita selalu sibuk dan sibuk terus, sehingga rencana menulis selalu tertunda. 

Hanya saja, jika mengobrol atau bincang-bincang dengan teman atau dengan keluarga (atau dengan siapa saja), kita selalu bisa. Untuk bincang-bincang atau ngobrol selalu ada waktu. Sesibuk apapun kita, biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Di saat kita amat sibuk mengurusi pekerjaan kantor, mengurusi anak didik menjelang Ujian Nasional misalnya, jika saat makan siang ketemu sahabat lama, biasanya kita tetap bias ngobrol lama sampai berjam-jam. 

Coba kita bertanya kepada diri sendiri, apabila  menulis sering ditunda (dengan alasan sibuk atau repot), mengapa jika ngobrol selalu bisa ? Tanpa sadar kita kadang ngobrol ngalor ngidul berlama-lama, mengapa waktu untuk ngobrol itu tidak dipakai untuk menulis ? Padahal jika waktu yang kita pakai untuk ngobrol tersebut kita manfaatkan untuk menulis, niscaya kita sudah mendapatkan tulisan cukup banyak. Karena itu marilah kita kurangi kegemaran ngobrol, dan kita salurkan secara positif menjadi kegemaran menulis. (Bersambung) 

Read Full Post »