Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘manajemen’ Category

OLEH : MUHAMMAD  ZEN

       Pada prinsipnya, usaha kecil menengah (UKM) merupakan salah satu sektor  yang cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia . Di saat krisis ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UKM mampu menjadi ”katup pengaman” agar tenaga kerja tidak sampai menganggur.
       Akibat merebaknya krisis global, dimana-mana muncul pemutusan hubungan kerja (PHK). Banyak pengusaha yang kalang kabut, karena di saat pusing mengurusi krisis global, justru sejumlah karyawan menuntut adanya kenaikan gaji. Akibatnya, dampak terburuk berupa PHK tak bisa terhindarkan lagi.
       Di saat banyak tenaga kerja yang menganggur akibat terkena PHK, maka sektor usaha kecil dan menengah menjadi salah satu solusi yang paling baik. Banyak korban PHK yang lantas membuka usaha sendiri kecil-kecilan, misalnya menggunakan modal uang pesangon yang diterima. Terlepas dari banyak kekurangannya, realitasnya jenis usaha ini mampu menghinbdarkan seseorang tidak terjebak jadi  pengangguran.  
       Namun kenyataannya, banyak pula sektor UKM yang kondisinya kembang-kempis, atau ”bagai mati segan hidup tak mau”. Usaha yang dijalankan sulit bersaing dengan sektor ekonomi makro, yang banyak didominasi para pengusaha dengan modal raksasa. Di saat pengusaha yang bermodal besar menurunkan harga jual produknya ke titik terendah, biasanya lantas banyak sektor usaha kecil yang gulung tikar karena kalah bersaing dalam memperebutkan konsumen. 
            Walau UKM merupakan salah satu sektor pengaman agar terhindar dari pengangguran, namun sektor usaha ini pada umumnya relatif lemah dari sisi manajemen bisnis. Ada sejumlah kelemahan, yang selama ini membelit kehidupan sektor UKM. Dalam kaitan ini, minimal ada lima kelemahan terkait kondisi UKM secara umum.
Lima kelemahan tersebut masing-masing yakni:
1. Kelemahan dalam mengakses pasar. Kelemahan akses pasar selama ini merupakan kelemahan yang dialami hampir sebagian besar UKM di tanah air. Hal ini karena mereka rata-rata kurang memiliki informasi yang lengkap dan rinci, terkait pasar mana saja yang bisa ditembus oleh produk yang dihasilkan.
2. Kelemahan dalam akses teknologi. Akses teknologi merupakan salah satu kelemahan sektor UKM. Kondisi ini tentu merupakan salah satu hambatan, demi memajukan sektor UKM. Padahal jika produk UKM sudah mendapat sentuhan teknologi, tentu akan mudah diterima pasar. 
3. Kelemahan dalam akses modal. Akses modal juga merupakan kelemahan UKM. Ini amat ironis, karena belakangan ini banyak bank berhamburan dana namun kurang melirik UKM. 
4. Kelemahan dalam manajemen keuangan. Kalangan UKM rata-rata tidak memiliki pola majemen keuangan yang rapi. Sehingga kadang sulit membedakan antara keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga.
5. Kelemahan SDM. SDM yang mendukung UKM rata-rata memang relatif kurang handal. Dalam kondisi inilah pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga sosial yang lain hendaknya bisa ikut berperan meningkatkan SDM yang mendukung UKM.         
       Meski demikian, di tengah banyaknya UKM yang terkendala sejumlah kelemahan, ternyata banyak pula UKM yang memiliki prospek bagus dalam perkembangan bisnis. Mereka ini kadang diusebut UKM unggulan, karena di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda, justru beberapa UKM mampu berkembang pesat. Bakso Cak Man di sektor kuliner , atau Bandung Sport di sektor toko fashion misalnya, merupakan contoh di antara sederet UKM yang memiliki prospek bagus di masa mendatang.

Read Full Post »

Oleh : Muhammad Zen

Pada prinsipnya di semua organisasi, termasuk organisasi dalam bentuk perusahaan, senantiasa memiliki budaya tertentu. Sistem Budaya inilah yang sering disebut budaya organisasi. Dengan adanya budaya organisasi, kondisi kerja dan sistem yang ada jadi terbentuk secara spesifik, sesuai dengan filosofi perusahaan atau filosofi organisasi.

 

Realisasi budaya organisasi dalam sebuah unit usaha atau perusahaan ? Tidak sulit untuk menemukannya. Jika kita sedang berbelanja di sebuah Toko Swalayan yang menganut waralaba misalnya, kita akan menjumpai sejumlah karyawan atau karyawati yang memiliki sikap budaya yang nyaris sama. Pelayanan di Alfamaret atau Indomaret misalnya, di manapun lokasinya, kita hampir selalu menemui tipikal pelayanan yang relatif sama.

 

Kondisi ini terjadi karena memang toko swalayan yang dibangun dengan sistem waralaba tersebut, menerapkan sebuah sistem ”budaya organisasi” yang sama pada setiap cabang. Mereka memiliki standar pelayanan yang sama terhadap konsumen.  Sehingga di manapun karyawan tersebut ditempatkan, mereka akan mampu melayani konsumen dengan standar layanan yang sama pula.

 

Karena budaya organisasi ini kadang diterapkan tanpa ”roh” atau tanpa ”penjiwaan” kita kadang-kadang menyaksikan sikap karyawan yang seakan seperti mesin atau robot yang tanpa jiwa. 

Sebagai solusi, ada sejumlah langkah yang bisa kita upayakan untuk memperbaiki simtem budaya organisasi. Dengan langkah ini diharapkan budaya organisasi yang tergelar akan lebih “berjiwa” dan bisa dihayati segenap karyawan.

         

1. Budaya organisasi memiliki peran yang sangat penting, dalam upaya meningkatkan kinerja sebuah perusahaan atau unit usaha. Karena itu pihak pemilik lembaga usaha, hendaknya memperhatikan betul akan budaya organisasi yang berkembang di lingkungan karyawan.     

 

2. Pihak manajer atau pimpinan lembaga usaha, memiliki peran yang penting dalam upaya pengembangan budaya organisasi di lembaga tersebut. Maka seorang pimpinan yang memegang kendali lembaga usaha, perlu memiliki visi yang jelas agar mampu mewarnai kondisi budaya organisasi yang ada.

 

3. Budaya organisasi akan mampu dijalankan dengan baik oleh segenap karyawan di sebuah peruasahaan atau unit usaha, jika budaya tersebut dihayati segenap karyawan. Penghayatan atau penjiwaan para karyawan terhadap budaya organisasi dalam kondisi sehari-hari ini amat penting, agar penerapan budaya organisasi tidak hanya sebatas formalitas atau sekedar dihafal dibibir semata-mata, melainkan dijalankan dengan penuh penghayatan segenap karyawan.

 

Jika aktualisasi budaya organisasi ini tidak dibarengi dengan penjiwaan atau penghatan dari segenap karyawan, maka tingkah laku para karyawan hanya sekedar menirukan doktrin dari pimpinan manajemen, sehingga mirip sebuah robot yang tanpa penjiwaan.

Read Full Post »

Sudah cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Sudah sekian bulan rasanya, sehingga terasa kangen sekali.

 

Buat sejumlah teman yang selama ini sering saling kunjung, maaf agak lama saya tidak mengunjungi  rumah maya ini. Penyebabnya memang karena kesibukan yang sering menumpuk.

 

Oh ya, sejak Mei lalu saya aktif di organisasi wartawan, maklujm latar belakang saya memang seorang jurnalis. Saya bekerja sebagai Jurnalis di MNC Grup (RCTI, TPI dan Global TV) untuk Wilayah Kota Malang. Saya terhitung mulai Mei 2008 masuk di Kepengurusan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang Raya, sebagai Wakil Ketua.

 

Cukup banyak liku-lku menekuni organisasi kewartawanan semacam PWI. Beragam suka dan dukanya, tapi yang jelas amat dinamik dan menggairahkan. Nanti liku-liku berkecimpung di kancah organisasi wartawan, bisa saya tulis tersendiri.

 

Oh ya, selain sibuk memburu berita, mengurusi organisasi wartawan, serta mengelola penerbitan buku, saya mulai semester ini juga kuliah lagi. Saya  kuliah ambil S-2 di Pasca Sarjana Universitas Islam Malang (Unisma) program Magister Manajemen. Liku-likunya juga cukup menarik, maklum latar belakang Sarjana saya adalah disiplin Filsafat dari UGM Yogya.

 

Oke, sekian dulu, nanti kita sambung lagi. SEmoga saya bisa kembali aktif mengisi blog ini. Salam dari Kota Apel Malang

Read Full Post »