Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Penerbitan Buku’ Category

 

Tanggal 25 Maret 2010 yang lalu, saya memberi ceramah di hadapan mahasiswa Universitas Negeri Malang. Peserta yakni mahasiswa tingkat akhir dan mereka yang baru saja wisuda tapi sedang berusaha mencari lapangan kerja. Berikut makalah saya di acara tersebut:

STRATEGI MENEMPUH

KARIR BIDANG JURNALISTIK PLUS

(Wartawan Media Cetak, Wartawan TV dan Penulis Buku)

Oleh : Drs. Muhammad Zen

            Banyak jalan menuju Roma, itulah salah satu pepatah yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Yang jelas, banyak jalan bisa diupayakan agar seorang sarjana, termasuk sarjana lulusan Universitas Negeri Malang, mampu merengkuh karir yang terbaik.

            Selain karir di bidang guru atau pegawai negeri sipil (PNS), ada sejumlah karir yang bisa ditekuni para sarjana lulusan Universitas Negeri Malang. Dalam kaitan ini yang akan kami paparkan yakni karir alternatif di bidang jurnalistik plus, yang meliputi  wartawan media cetak, wartawan televisi serta karir di bidang penulis buku. Karir di tiga bidang tersebut, bisa dilakukan oleh para sarjana lulusan UM dari disiplin ilmu apa saja.

            Bagaimana cara atau strategi yang tepat, untuk menggapai karir tersebut ? Dalam kesempatan inilah kita akan berbicara secara detail dan blak-blakan, lantas nanti kita diskusikan bersama.

Semua Bisa Jadi Wartawan Dan Penulis

       Keinginan untuk jadi wartawan merupakan hal yang bukan tidak mungkin untuk direalisasi. Jadi wartawan itu gampang, asal tahu caranya.  Pasalnya, pada dasarnya semua orang bisa dan memiliki potensi jadi wartawan.

       Semua orang asal memiliki niat yang serius dan berjuang keras merealisasikannya, pasti bisa jadi wartawan.  Asal seseorang bersedia bekerja  serius dengan menerapkan strategi yang tepat, maka dia akan dengan mudah jadi wartawan.

       Menekuni profesi wartawan memang membutuhkan minat yang keras membaja, serta serta strategi yang jitu. Tanpa adanya dua hal tersebut, maka angan-angan untuk menjadi wartawan hanya akan tinggal angan-angan semata.  Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki, jika seseorang ingin terjun menekuni karir sebagai wartawan.

       Di antaranya yakni memiliki potensi kecerdasan otak yang bagus, tangguh dalam bekerja, semangat hidup yang membaja dan pantang menyerah. Selain itu persyaratan lain yang harus dimiliki calon wartawan, yakni kondisi fisik yang prima serta mudah menjalin hubungan baik dengan segenap lapisan sosial. 

       Potensi kecerdasan otak yang encer atau bagus memang mutlak dimiliki oleh seorang calon wartawan. Sebab saat membikin berita, seorang wartawan dituntut mampu menyajikan berita yang enak dibaca dan memikat orang. Dalam kondisi inilah. Kecerdasan seseorang mendapat ujian berat. Dia harus mampu menyajikan kalimat yang sederhana tapi memikat, menceritakan beragam perostiwa hasil liputan yang telah dilakukan. 

       Tanpa adanya kecerdasan otak, seorang wartawan akan kebingungan saat membikin berita. Memang ada teori khusus untuk membikin berita tersebut, yang biasanya dipelajari di kampus yang mengkaji ilmu telekomunikasi atau ilmu jurnalistik. Namun apapun teori penulisan berita, semua wartawan tidak akan bisa membuat berita yang baik, tanpa didukung dengan pemikiran yang cerdas. 

       Seorang wartawan juga harus memiliki sikap tangguh dalam bekerja, karena pekerjaan dalam jurnalistik bukan pekerjaan enteng. Banyak pahit getir yang harus dirasakan, bagi seseorang yang terjun dikancah wartawan. Jika seorang mudah putuh asa lembek atau lemah, maka dia akan kerepotan jika terjun sebagai wartawan. 

       Saat ditugaskan meliput berita didaerah terpencil misalnya, jelas dibutuhkan ketangguhan fisik bagi seorang wartawan. Demikian juga jika seorang wartawan diterjunkan dikawasan bencana, misalkan meliput bencana tsunami atau banjir besar, jelas dibutuhkan kondisi kesehatan yang benar benar prima. 

       Meski demikian, kancah wartawan memiliki keasyikan sendiri seorang wartawan terjun ke lapangan, meliput kondisi bencana yang demikian dahsyat dan memprihatinkan, merupakan tantangan yang harus dijawab. Ketika wartawan tersebut mampu meliput secara maksimal maka yang bersangkutan akan mendapatkan kepuasan yang tak ternilai harganya. Lebih lagi jika hasil liputan wartawan tersebut mendapat pujian dari redaktur, atau mendapat tanggapan positif dari masyarakat luas.

KARIR WARTAWAN MEDIA CETAK

            Memangku profesi sebagai wartawan di sebuah media cetak, baik surat kabar harian, surat kabar mingguan atau majalah, merupakan salah satu karir yang bisa ditekuni oleh para sarjana. Untuk bisa terjun di kancah wartawan media cetak, tidak harus lulusan dari jurnalistik, ilmu komunikasi atau jurusan bahasa Indonesia. Terjun sebagai wartawan media cetak juga tidak harus memiliki latar belakang sebagai wartawan kampus misalnya. Namun seandainya Anda sudah memiliki pengalaman di bidang jurnalistik kampus, hal itu akan lebih baik.

            Dalam pelaksanaannya di lapangan, sekarang ini mereka yang berprofesi sebagai wartawan di media cetak, berasal dari berbagai  disiplin ilmu. Ada  seorang redaktur bidang ekonomi atau wartawan ekonomi namun lulusan dari Teknik Geodesi. Adapula wartawan di bidang pemerintahan, atau wartawan kriminal misalnya, namun  ternyata  lulusan dari Jurusan Biologi.

            Alumni Universitas Negeri Malang (dulu IKIP Negeri Malang), yang saat ini sukses berkarir di bidang jurnalistik juga cukup banyak. Sebut saja misalnya Anwar Hudiono, lulusan PLS Fakultas Ilmu Pendidikan UM, kini jadi  redaktur senior di Harian Kompas Biro Jawa Timur. Ada juga Baihaqi, juga lulusan PLS UM, kini menjabat sebagai  Kordinator Liputan (Korlip) Harian Jawa Pos, sekaligus merangkap pembina Radar di seluruh indonesia. Juga ada Ziz Mujahid lulusan  Bimbingan Konseling UM pernah berkarir di Harian Republika sebelum terpilih menjadi anggota DPR.

            Syarat yang harus dipenuhi agar seorang wartawan bisa sukses:

1. Semangat Yang Membara

2. Selalu Berpikir Kreatif.

3. Kerjasama Tim.

KARIR WARTAWAN  TELEVISI

Wartawan televisi atau jurnalistik televisi juga merupakan karir alternatif  bagi lulusan Universitas Negeri Malang. Sama seperti karir di bidang wartawan media cetak, menjadi wartawan televisi juga bisa ditempuh oleh semua sarjana berbagai jurusan yang ada di Universitas Negari Malang.

Bagaimana agar bisa menjadi wartawan televisi? Banyak cara yang bisa dilakukan agar seorang sarjana bisa meraih impian menjadi jurnalis televisi. Baik menjadi jurnalis di media televisi lokal, maupun menjadi jurnalis di televisi nasional.

Bagaimana strategi yang bisa ditempuh untuk menjadi wartawan televisi tersebut? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, agar seorang sarjana bisa berprofesi sebagai wartawan televisi.

-Strategi  pertama yakni mencari informasi di sejumlah televisi nasional dan televisi lokal terkait dengan lowongan kerja yang dibutuhkan.

Strategi pertama ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya yakni langsung diangkat sebagai jurnalistik di pusat media tersebut, sekaligus berpotensi diangkat sebagai karyawan organik.Kelemahanya jumlah pelamar sangat banyak, sehingga tingkat persaingan agar bisa lulus seleksi sangat ketat.

-Strategi kedua yaitu strategi menapak karir secara bertahap. Strategi ini tidak menempuh seleksi penerimaan jurnalis televisi di pusat, sebagaimana strategi pertama, tetapi menempuh karir di bidang jurnalistik secara bertahap. Yakni dari tahap yang paling bawah terus ke atas. Misalnya saja dimulai dengan  berprofesi di media koran lokal atau media radio lokal, dan terus menempa diri dibidang jurnalistik. Bersamaan dengan itu juga  menjalin hubungan baik dengan sejumlah jurnalis televisi.yang akan menjadi sasaran.  Anda juga bisa mulai membantu jurnalis televisi nasional, di posisi sebagai kameramen misalnya. Setelah cukup lama berpengalaman membantu seorang jurnalis di televisi nasional, maka pelan tapi pasti akan terbuka peluang untuk berkiprah langssung sebagai jurnalis di kancah televisi nasional.

KARIR PENULIS BUKU

Berprofesi sebagai penulis buku merupakan salah satu karir yang bisa ditempuh lulusan Universitas Negeri Malang. Profesi  ini sebetulnya menyediakan peluang yang sangat besar, dan belum banyak dilirik oleh  para sarjana. Masih sangat sedikit lulusan sarjana yang tertarik secara serius untuk menekuni profesi ini. Karena itu peluang jadi penulis buku masih terhampar luas.

Apakah profesi sebagai penulis buku berpotensi bisa hidup berkecukupan alias melimpah dari segi finansial  ? Terhadap pertanyaan ini jawabanya bisa iya tetapi juga bisa  tidak Memang banyak penulis buku yang hidupnya pas-pasan, jika tidak mengetahui strateginya.

Bagaimana strategi yang baik agar bisa menjadi penulis sukses ? Banyak cara bisa dilakukan. Di antaranya yakni:

-Buat topik buku yang sedang dibutuhkan pasar.

-Jika memungkinkan, selain jadi penulis Anda juga bisa merangkap sebagai penerbit.

            Jika sudah mendapatkan tema yang bagus dan layak pasar, maka langkah kongkrit selajutkan adalah:

-Membuat outline
-Menulis Bab per Bab
-Evaluasi penulisan setiap Bab
-Editing

            Demikian makalah sederhana ini, sekedar sebagai pancingan agar diskusi kita lebih meriah.

Biodata Muhammad Zen:

-Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta 

-Jurnalis Televisi Nasional MNC Grup ( RCTI, TPI dan Global TV)

-Sebelum di TV, pernah jadi Kepala Biro Harian Suara Karya Jatim, dan wartawan Majalah Kartini.

-Penulis buku:

1. NU Pasca Khittah, Prospek Ukhuwah Dengan Muhammadiyah, MW Mandala Yogyakarta, 1992 (bersama Khoirul Fathoni).

2. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru, Cakrawala Media Publisher, Malang, 2007 (kici cetakan ke-4) 

3. Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal, Kiat Jitu Untuk Pejabat dan Pengusaha, Cakrawala Media Publisher, Malang, 2009 (kini cetakan ke-2).

4. Gus Dur Kiai Super Unik, Cakrawala Media Publisher, Malang, 2010.

Read Full Post »

 

Oleh : Muhammad Zen

Menekuni “self publishing” alias menerbitkan buku karya sendiri, memang banyak keunikannya. Kita harus pandai memilih materi tulisan atau materi untuk buku yang memikat, sekaligus berpotensi layak jual alias bakal laris saat buku dipasarkan.

Sudah 2 buku saya terbitkan (dan 1 buku lagi kini sedang naik cetak), semua secara self publishing, dan alhamdulillah hasilnya cukup bagus.

Dua buku yang sudah terbit tersebut yakni:

1. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru (kini cetakan ke-4)

2. Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal (kini cetakan ke-2).

Pemasaran buku tersebut cukup bagus, karena saya biasanya menggunakan “pemasaran berlapis”.

-Lapis pertama yakni memasarkan buku lewat distributor buku, agar buku kita masuk ke berbagai toko buku di Indonesia. Kelebihannya: buku kita langsung tersebar ke berbagai toko buku. Kelemahannya: perputaran uang lambat (bisa 3-6 bulan baru cair untuk tahap pertama, seterusnya tiap bulan). Kelemahan lain: distributor lazimnya minta diskon sangat tinggi (kisaran 50 % – 65 % dari harga jual buku).

-Lapis kedua: yakni buku kita pasarkan secara langsung (bisa oleh kita sendiri atau oleh orang-orang kepercayaan kita) ke komunitas yang butuh buku tersebut. Contoh buku sertifikasi guru dipasarkan ke guru / sekolah, atau bisa juga lewat Dinas Pendidikan di berbagai daerah. Dengan diskon 40 % – 50 % mereka sudah sangat senang, dan dananya biasanya langsung cair.

-Lapis ketiga: yakni pemasaran bersamaan saya memberi ceramah atau mengisi seminar. Kebetulan saya belakangan ini sering diundang mengisi ceramah / seminar, untuk yang akan datang: akhir Maret 1 tempat di Malang, untuk April saya dapat order 6 kota (di Malang, Probolinggo, Slawi Tegal, Bandung, Garut serta Cianjur). Pada saat saya mengisi ceramah atau seminar, saya minta panitia menyediakan meja khusus yang menjual buku-buku tulisan saya dengan diskon 40 % dan lazimnya peserta seminar banyak tertarik sehingga laris manis dan dananya kontan. Mengapa peserta seminar diberi diskon hingga 40 % ? Itu untuk menarik minat, bukankah diskon tersebut tetap dibawahnya diskon  yang diminta distributor buku ? Apa tidak rugi ? Ya tidak, karena harga buku lazimnya dilipatkan 5 atau 6 kali dari biaya cetak buku.

Oh ya, buku ketiga saya yang diterbitkan self publishing, berjudul: Gus Dur Kiai Super Unik. Tanggal 20 Maret nanti buku selesai cetak. Selain dipasarkan biasa (toko buku via distributor), buku tersebut juga akan saya pasarkan ke seputar Kompleks Makam Gus Dur di Tebu Ireng Jombang (saya sudah memperoleh agen yang mengkordinir 30 lebih asongan buku di sekitar makam Gus Dur). Selain itu juga bakal dipasarkan di terminal, stasiun dan kelenteng, serta masjid Ceng Ho.

Dengan pemasaran berlapis seperti itu, kembalinya modal cepat dan buku bisa laris manis. Semoga buku GUS DUR KIAI SUPER UNIK tetap bisa laris manis.

Read Full Post »

Oleh : Muhammad Zen

Bagi seorang penulis, yang belum pernah belajar self publishing (menerbitkan karya sendiri) kadang dihinggapi rasa curiga ke penerbit. Mengapa curiga ? Karena seringkali penulis hanya diberi jatah 10 % dari harga jual buku setelah laku. Bukankah berarti penerbit menerima 90 % dari harga jual buku ? Ternyata anggapan itu tidak benar alias salah.

Jika peredaran buku diserahkan ke distributor buku, maka penerbit lazimnya hanya terima antara 35 % hingga 45 % harga buku. Karena distributor seringkali minta 55 % hingga 65 %. Memang ada distributor yang minta 50 % tetapi kebanyakan lebih dari itu.

Namun jatah distributor tersebut bukan “dimakan semua” karena yang 35 % – 40 % diberikan ke toko buku. Berarti jatah distributor ya selisihnya saja. Artinya jika distributor minta 60 % dari harga buku ke penerbit, dan yang 40 % dikasih ke toko buku, maka jatah distributor yang mengedarkan ke seluruh Indonesia cuma 20 %.

Kembali ke jatah penerbit,  jika distributor minta 55 % maka jatah penerbit 45 %, jika distributor minta 65 % ya jatah penerbit tinggal 35 %. Hal ini masih dikurangi jatah penulis 10 % (berarti jatah penerbit cuma 25 %). Padahal seluruh biaya penerbitan, yang membiayai ya penerbit.

Supaya penerbit tetap untung, maka harga buku lazimnya dikalikan 5 atau 6 dari harga cetak. Namun jika penulis bisa marangkap sebagai penerbit, keuntungannya tetap lumayan. Apalagi jika bukunya laris, dan penjualan lebih banyak langsung ke konsumen (maksudnya hanya sedikit buku yang lewat distributor, selebihnya penjualan langsung).

Penjualan langsung untungnya lumayan, walau sudah didiskon. Uangnya juga langsung kontan.

Read Full Post »

Oleh: Drs. H. Muhammad Zen

Sejak masa reformasi bergulir, kebebasan pers di Indonesia mulai tergelar. Ironisnya, bersamaan dengan hadirnya kebebasan pers, juga merebak banyak sekali “Wartawan Gadungan” atau “wartawan  nakal” yang ulahnya justru merepotkan masyarakat. Aksi mereka ini amat meresahkan pejabat dan pengusaha, karena sering diperas. Selain itu munculnya oknum wartawan nakal juga mencemarkan nama baik  wartawan profesional.

Untuk mengantisipasi merebaknya ulah oknum wartawan nakal, saya sejak akhir Oktober 2009 lalu meluncurkan buku berjudul “Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal”. Buku setebal 200-an halaman ini saya tulis sendiri dan saya terbitkan sendiri (pakai bendera: Cakrawala Media Publisher). Buku ini hasil infestigasi dan olah strategi, karena saya sudah lebih dari 27 tahun berkecimpung di dunia wartawan (pernah jadi wartawan koran mingguan di Yogya, koran harian nasional di Surabaya, majalah wanita di Jakarta, serta kini jadi wartawan TV nasional untuk wilayah Malang).

Untuk sementara buku ini belum masuk toko buku, tetapi peredarannya baru di lingkup seminar / lokakarya, serta sales langsung dari kantor ke kantor. Lokakarya digelar di Malang Jatim(Oktober 2009) dan Pekalongan Jateng (Desember 2009). Kemudian yang akan datang, 11 Februari nanti di Brebes Jateng, serta 25 Februari di Cirebon Jabar. Sedang sales dari kantor ke kantor dilakukan sejumlah sahabat saya di Bali, Kudus dan Bandung.

Meski demikian, buku tersebut kini sudah memasuki cetakan kedua, karena cukup laris manis di pasaran. Mengapa belum masuk toko buku ? Saya sebetulnya punya jaringan toko buku di berbagai daerah di Indonesia, juga punya jaringan dengan distributor buku. Namun sementara pemasaran via toko  buku dipending dulu karena kembalinya dana (modal untuk biaya cetak ulang) agak lama. Jika lewat seminar / lokakarya atau sales ke kantor-kantor, pemasukan dananya cepat, bisa untuk segera cetak ulang. Tentu saja yang jadi panitia seminar / sales ke kantor-kantor bukan saya, tapi sejumlah sahabat saya yang bertebaran di berbagai pelosok Indonesia.

Para  panitia seminar biasanya lumayan untungnya, karena tiket dijual cukup tinggi tapi laris. Buku yang dijajakan ke kantor, juga dijual mahal dan laris. Mengapa ? Karena sangat banyak pejabat atau pengusaha yang pernah dikerjain oleh oknum wartawan nakal. Karena itu saat ditawari ikut seminar dengan topik mengatasi wartawan nakal, atau ditawari bukunya saja, mereka banyak yang langsung ok.

Tertarik menggelar seminar bertema “Strategi Mengatasi Oknum Wartawan Nakal” atau mengedarkan bukunya saja di daerah Anda ? Boleh saja. Silahkan kontak saya di 08123383495 (Muhammad Zen).

Salam damai dari Kota Apel Malang Jawa Timur

Read Full Post »

Oleh: Drs. H. Muhammad Zen

Terjun di Self Publishing alias menerbitkan buku karya sendiri, sering didambakan banyak penulis. Banyak keunggulan jika penulis bersedia serta “berani” menerbitkan karyanya sendiri.

Namun terjun di self publishing juga tidak mudah. Penulis harus benar-benar mampu membuat buku yang layak pasar, jika memang ingin berhasil dalam self publishing. Sebab jika buku itu kurang layak pasar, meski mungkin menurut kita bagus, maka penjualan di pasaran jadi seret dan modal yang sudah kita keluarkan akan sulit kembali.

Agar bisa membuat buku yang layak pasar, kadang-kadang kita memang harus mengorbankan idealisme. Kalau kita menuruti idealisme, mungkin menurut kita sangat bagus tetapi ternyata di pasaran masyarakat jarang tertarik dengan buku itu. Padahal jika buku gagal di pasar, kita sendiri yang rugi besar, karena semua permodalan kita yang menanggung.

Sebaliknya jika buku layak pasar, keuntungan self publishing cukup menggiurkan.  Karena buku baru terjual antara 25 hingga 30 persen, kita sudah BEP alias sudah kembali modal. Jadi jika buku itu laris, bisa diterima pasar, kancah self publishing ini memiliki prospek bagus.

Pengalaman saya sudah 2 buku yang saya terbitkan sendiri:

Yang pertama berjudul : Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru. Buku ini laris manis karena saat buku awal terbit (akhir 2007) gairah guru untuk ikut sertifikasi sangat luar biasa. Kini buku tersebut sudah cetakan ketiga.

Kedua berjudul: Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal. Buku ini terbit Oktober 2009 dan kini sudah memasuki cetakan kedua.  Padahal saya belum memasukkan buku ini ke toko buku, pemasarannya sementara dalam bentuk kerjasama dengan EO Seminar  dan penjualan langsung via sales khusus. Sales khusus baru menggarap Malang, Bali dan Bandung. Sedangkan seminar baru di Malang Jatim dan Pekalongan Jateng. 

 Tapi bulan Pebruari 2010 nanti, saya ceramah di Pasuruan Jatim, Brebes Jateng dan Cirebon Jabar. Saat ini buku cetakan pertama tinggal 300 eks (semula cetak 1.000 eks), dan cetakan kedua saya cetak 2.000 eks. Mengapa berani cetak banyak ? Karena peserta seminar di Brebes saja rencananya di atas seribu orang (dibagi dalam 3 hari).  Seminar temanya mirip judul buku saya, tentang Strategi mengatasi wartawan nakal, biaya seminar agak lumayan mahal tapi semua peserta dapat buku tulisan saya.

Buku cukup laris….alhamdulillah

Read Full Post »

       Bagi seorang penulis, mampu menerbitkan buku karyanya sendiri, memang sering menjadi idaman. Banyak penulis yang bercita-cita bisa menerbitkan karyanya sendiri, daripada karya tulisan kita itu dilempar ke penerbit lain.

       Mengapa demikian ? Karena jika karya kita diterbitkan penerbit lain, posisi kita sebagai penulis seringkali dalam posisi yang “selalu kalah”. Semua kebijakan ditentukan penerbit, dan prosentase royalty bagi penulis juga “hanya”  rata-rata 10 % dari nilai buku yang terjual. Ini jika penerbit tersebut jujur dan amanah, namun bagaimana seandainya penerbit tersebut “nakalan” (misalnya cetak buku 3000 tapi dilkaporkan hanya 1000 ). Semua tergantung itikat baik pihak penerbit.

       Namun jika self publishing, alias kita menerbitkan karya kita sendiri, maka semua keuntungan dari penjualan buku kita yang menikmatinya. Jika buku tersebut tidak laku di pasaran, memang resikonya kita yang rugi karena biaya cetak dll kita yang nanggung. Namun jika laris manis di pasaran, maka kita juga yang untung besar.

       Berapa biaya yang dibutuhkan untuk self publishing ? Sangat relatif modal yang kita butuhkan. Namun untuk tahap awal, dengan cetak buku yang tidak terlalu tebal, kisaran 140-200 halaman, dengan omset cetakan 1000 eksemplar, dibutuhkan dana tak lebih dari Rp 10 juta.

        Keuntungannya ? Lumayan juga, karena buku baru terjual 30 persen saja misalnya,  sudah kembali modal.

       Jadi untuk terjun di SELF PUBLISHING ? SIAPA TAKUT. 

      Mari Sahabat

Read Full Post »

Menulis merupakan kegiatan ringan namun berdampak luar biasa dalam kehidupanseseorang. Seorang tokoh yang pandai menulis dan gemar menulis, akan terus dikenang oleh generasi-generasi sesudahnya, meskipun tokoh yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Sepanjang tulisannya masih bermanfaat dan masih dibaca orang, maka tokoh yang telah wafat tersebut akan terus dikenang orang.  

Kegiatan menulis juga merupakan salah satu hal  yang amat menyenangkan, serta bisa mendatangkan imbalan finansial dan non finansial. Banyak orang yang merasa hidupnya lebih bermakna dengan aktif menulis. Dengan produktif menulis, seseorang akan lebih bergairah dalam hidupnya. Semangat hidup seseorang akan terus terjaga, jika orang tersebut rajin menganalisa dan menuangkan hasil analisanya dalam sebuah tulisan.

Hanya saja di sisi lain aktifitas menulis juga  banyak sekali hambatannya. Banyak orang yang berniat menulis, misalnya ingin menulis artikel ilmiah, menulis buku ilmiah atau menulis novel dan cerpen, namun hanya sebagian yang mampu merealisasikan niat tersebut. Seringkali niat untuk menulis, hanya sekedar “niat” atau keinginan semata-mata. Hanya orang-orang yang punya sikap serius dan ulet, yang mampu merealisasikan “niat menulis” jadi tulisan yang riil. 

Ada orang hanya berniat dan berniat saja menulis, namun belum juga tergerak untuk merealisasikan menulis. Mereka kadang beralasan besok sajalah, sekarang masih repot, masih sibuk. Besuk saja saya akan membuat tulisan terbaik, yang akan bisa best seller dan mampu mengalahkan tulisan penulis lain.

Tetapi esok hari juga beralasan “besok saja” sehingga tulisan yang diinginkan  tak kunjung jadi. Selama orang yang mau menulis tersebut terus menunda-nunda aktifitas menulis, maka dia tidak akan jadi menulis. Intinya seseorang seringkali memiliki kecenderungan “menunda menulis” dan menunda lagi, sehingga ide menulis tersebut tetap hanya tinggal ide saja. Inilah salah satu hambatan atau kendala bagi seseorang yang ingin menulis, baik menulis artikel maupun menulis buku.  

Sibuk atau repot karena sedang mengerjakan sesuatu, seringkali menjadi alasan paling masuk akal bagi kita untuk menunda menulis. Apabila hal  ini dituruti, kemungkinan yang terjadi yakni tulisan kita tak akan selesai, dan sampai kapanpun rencana kita untuk menulis buku atau menulis artikel  tidak akan jadi kenyataan. Sebab kita selalu sibuk dan sibuk terus, sehingga rencana menulis selalu tertunda. 

Hanya saja, jika mengobrol atau bincang-bincang dengan teman atau dengan keluarga (atau dengan siapa saja), kita selalu bisa. Untuk bincang-bincang atau ngobrol selalu ada waktu. Sesibuk apapun kita, biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Di saat kita amat sibuk mengurusi pekerjaan kantor, mengurusi anak didik menjelang Ujian Nasional misalnya, jika saat makan siang ketemu sahabat lama, biasanya kita tetap bias ngobrol lama sampai berjam-jam. 

Coba kita bertanya kepada diri sendiri, apabila  menulis sering ditunda (dengan alasan sibuk atau repot), mengapa jika ngobrol selalu bisa ? Tanpa sadar kita kadang ngobrol ngalor ngidul berlama-lama, mengapa waktu untuk ngobrol itu tidak dipakai untuk menulis ? Padahal jika waktu yang kita pakai untuk ngobrol tersebut kita manfaatkan untuk menulis, niscaya kita sudah mendapatkan tulisan cukup banyak. Karena itu marilah kita kurangi kegemaran ngobrol, dan kita salurkan secara positif menjadi kegemaran menulis. (Bersambung) 

Read Full Post »

Older Posts »