Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘wirausaha’ Category

Oleh : Muhammad Zen

Kesuksesan hidup merupakan dambaan atau keinginan setiap orang. Siapapun juga di antara kita, tentu mendambakan hidup sukses, entah sukses di bidang apa saja.

Untuk mencapai kesuksesan besar, ternyata kiprah yang bisa kita lakukan tidak terlalu sulit. Agar mampu sukses besar, kita perlu berkiprah alias “action”, meski berkiprah untuk hal-hal kecil. Asal hal kecil yang bersifat positif itu dilakukan secara kontinyu, alias istiqomah, maka dari aksi yang kecil itu akan bisa berbuah sukses besar.

Seorang penulis buku yang produktif misalnya, juga diawali dengan “action” kecil. Cukup tiap hari menulis satu layar komputer, asal rutin dilakukan setiap hari, maka sekitar 3 bulan akan muncul satu buku. Dengan demikian dalam satu tahun, akan bisa muncul 4 buku berhasil kita tulis. Bukankah itu produktif ?

Padahal untuk menulis satu layar komputer setiap hari, pasti bisa kita lakukan, asal kita memiliki “niat yang kuat” untuk menulis buku. Sesibuk apapun kita, bekerja atau kuliah misalnya, asal niat serius, pasti bisa menulis satulayar komputer perhari.

Selamat jadi penulis produktif, Kita Pasti Bisa.

Read Full Post »

 

Oleh : Muhammad Zen

Menekuni “self publishing” alias menerbitkan buku karya sendiri, memang banyak keunikannya. Kita harus pandai memilih materi tulisan atau materi untuk buku yang memikat, sekaligus berpotensi layak jual alias bakal laris saat buku dipasarkan.

Sudah 2 buku saya terbitkan (dan 1 buku lagi kini sedang naik cetak), semua secara self publishing, dan alhamdulillah hasilnya cukup bagus.

Dua buku yang sudah terbit tersebut yakni:

1. Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru (kini cetakan ke-4)

2. Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal (kini cetakan ke-2).

Pemasaran buku tersebut cukup bagus, karena saya biasanya menggunakan “pemasaran berlapis”.

-Lapis pertama yakni memasarkan buku lewat distributor buku, agar buku kita masuk ke berbagai toko buku di Indonesia. Kelebihannya: buku kita langsung tersebar ke berbagai toko buku. Kelemahannya: perputaran uang lambat (bisa 3-6 bulan baru cair untuk tahap pertama, seterusnya tiap bulan). Kelemahan lain: distributor lazimnya minta diskon sangat tinggi (kisaran 50 % – 65 % dari harga jual buku).

-Lapis kedua: yakni buku kita pasarkan secara langsung (bisa oleh kita sendiri atau oleh orang-orang kepercayaan kita) ke komunitas yang butuh buku tersebut. Contoh buku sertifikasi guru dipasarkan ke guru / sekolah, atau bisa juga lewat Dinas Pendidikan di berbagai daerah. Dengan diskon 40 % – 50 % mereka sudah sangat senang, dan dananya biasanya langsung cair.

-Lapis ketiga: yakni pemasaran bersamaan saya memberi ceramah atau mengisi seminar. Kebetulan saya belakangan ini sering diundang mengisi ceramah / seminar, untuk yang akan datang: akhir Maret 1 tempat di Malang, untuk April saya dapat order 6 kota (di Malang, Probolinggo, Slawi Tegal, Bandung, Garut serta Cianjur). Pada saat saya mengisi ceramah atau seminar, saya minta panitia menyediakan meja khusus yang menjual buku-buku tulisan saya dengan diskon 40 % dan lazimnya peserta seminar banyak tertarik sehingga laris manis dan dananya kontan. Mengapa peserta seminar diberi diskon hingga 40 % ? Itu untuk menarik minat, bukankah diskon tersebut tetap dibawahnya diskon  yang diminta distributor buku ? Apa tidak rugi ? Ya tidak, karena harga buku lazimnya dilipatkan 5 atau 6 kali dari biaya cetak buku.

Oh ya, buku ketiga saya yang diterbitkan self publishing, berjudul: Gus Dur Kiai Super Unik. Tanggal 20 Maret nanti buku selesai cetak. Selain dipasarkan biasa (toko buku via distributor), buku tersebut juga akan saya pasarkan ke seputar Kompleks Makam Gus Dur di Tebu Ireng Jombang (saya sudah memperoleh agen yang mengkordinir 30 lebih asongan buku di sekitar makam Gus Dur). Selain itu juga bakal dipasarkan di terminal, stasiun dan kelenteng, serta masjid Ceng Ho.

Dengan pemasaran berlapis seperti itu, kembalinya modal cepat dan buku bisa laris manis. Semoga buku GUS DUR KIAI SUPER UNIK tetap bisa laris manis.

Read Full Post »

Oleh : Muhammad Zen

Bagi seorang penulis, yang belum pernah belajar self publishing (menerbitkan karya sendiri) kadang dihinggapi rasa curiga ke penerbit. Mengapa curiga ? Karena seringkali penulis hanya diberi jatah 10 % dari harga jual buku setelah laku. Bukankah berarti penerbit menerima 90 % dari harga jual buku ? Ternyata anggapan itu tidak benar alias salah.

Jika peredaran buku diserahkan ke distributor buku, maka penerbit lazimnya hanya terima antara 35 % hingga 45 % harga buku. Karena distributor seringkali minta 55 % hingga 65 %. Memang ada distributor yang minta 50 % tetapi kebanyakan lebih dari itu.

Namun jatah distributor tersebut bukan “dimakan semua” karena yang 35 % – 40 % diberikan ke toko buku. Berarti jatah distributor ya selisihnya saja. Artinya jika distributor minta 60 % dari harga buku ke penerbit, dan yang 40 % dikasih ke toko buku, maka jatah distributor yang mengedarkan ke seluruh Indonesia cuma 20 %.

Kembali ke jatah penerbit,  jika distributor minta 55 % maka jatah penerbit 45 %, jika distributor minta 65 % ya jatah penerbit tinggal 35 %. Hal ini masih dikurangi jatah penulis 10 % (berarti jatah penerbit cuma 25 %). Padahal seluruh biaya penerbitan, yang membiayai ya penerbit.

Supaya penerbit tetap untung, maka harga buku lazimnya dikalikan 5 atau 6 dari harga cetak. Namun jika penulis bisa marangkap sebagai penerbit, keuntungannya tetap lumayan. Apalagi jika bukunya laris, dan penjualan lebih banyak langsung ke konsumen (maksudnya hanya sedikit buku yang lewat distributor, selebihnya penjualan langsung).

Penjualan langsung untungnya lumayan, walau sudah didiskon. Uangnya juga langsung kontan.

Read Full Post »

       Bagi seorang penulis, mampu menerbitkan buku karyanya sendiri, memang sering menjadi idaman. Banyak penulis yang bercita-cita bisa menerbitkan karyanya sendiri, daripada karya tulisan kita itu dilempar ke penerbit lain.

       Mengapa demikian ? Karena jika karya kita diterbitkan penerbit lain, posisi kita sebagai penulis seringkali dalam posisi yang “selalu kalah”. Semua kebijakan ditentukan penerbit, dan prosentase royalty bagi penulis juga “hanya”  rata-rata 10 % dari nilai buku yang terjual. Ini jika penerbit tersebut jujur dan amanah, namun bagaimana seandainya penerbit tersebut “nakalan” (misalnya cetak buku 3000 tapi dilkaporkan hanya 1000 ). Semua tergantung itikat baik pihak penerbit.

       Namun jika self publishing, alias kita menerbitkan karya kita sendiri, maka semua keuntungan dari penjualan buku kita yang menikmatinya. Jika buku tersebut tidak laku di pasaran, memang resikonya kita yang rugi karena biaya cetak dll kita yang nanggung. Namun jika laris manis di pasaran, maka kita juga yang untung besar.

       Berapa biaya yang dibutuhkan untuk self publishing ? Sangat relatif modal yang kita butuhkan. Namun untuk tahap awal, dengan cetak buku yang tidak terlalu tebal, kisaran 140-200 halaman, dengan omset cetakan 1000 eksemplar, dibutuhkan dana tak lebih dari Rp 10 juta.

        Keuntungannya ? Lumayan juga, karena buku baru terjual 30 persen saja misalnya,  sudah kembali modal.

       Jadi untuk terjun di SELF PUBLISHING ? SIAPA TAKUT. 

      Mari Sahabat

Read Full Post »

Oleh: Muhammad Zen

Jum’at malam kemarin, saya baru saja menghadiri acara Recognition di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Luar biasa, meski acara tersebut membayar Rp 35.000 perorang namun  dihadiri ribuan orang. Sekitar 5.000 orang dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan berbagai propinsi di Indonesia, hadir dalam acara tersebut.

 

Acara ini sebetulnya diadakan oleh K-Link, sebuah perusahaan yang memproduksi suplemen untuk pengobatan cara herbal atau alami. Mengapa ribuan orang menyemparkan hadir dalam acara tersebut ? Inilah yang mengherankan.

 

Saya bersama istri yang ikut di acara tersebut,  awalnya juga heran. Ditinjau dari psikologi massa, kira-kira apa yang menyebabkan ribuan orang dari berbagai penjuru tanah air ikut hadir di acara tersebut ?

Bisa jadi yang menjadi faktor utama adalah “Kemanfaatan”. Mereka merasakan langsung manfaat setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis di K-Link. Baik manfaat segi kesehatan, maupun manfaat dalam pengembangan bisnis.

 

Sebab  dalam kesempatan tersebut, ditampilkan sejumlah orang yang sukses setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis K-Link. Banyak orang yang awalnya biasa-biasa saja (ada yang petani, penjual ikan bakar, tukang pijat urut, sales keramik dll) namun setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis K-Link menjadi luar biasa, dengan penghasilan puluhan juta rupiah perbulan. Tampaknya banyak orang yang tertarik, awalnya orang biasa namun kemudian jadi luar biasa. Termasuk saya dan Anda tentunya.

Read Full Post »

OLEH : MUHAMMAD  ZEN

       Pada prinsipnya, usaha kecil menengah (UKM) merupakan salah satu sektor  yang cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia . Di saat krisis ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UKM mampu menjadi ”katup pengaman” agar tenaga kerja tidak sampai menganggur.
       Akibat merebaknya krisis global, dimana-mana muncul pemutusan hubungan kerja (PHK). Banyak pengusaha yang kalang kabut, karena di saat pusing mengurusi krisis global, justru sejumlah karyawan menuntut adanya kenaikan gaji. Akibatnya, dampak terburuk berupa PHK tak bisa terhindarkan lagi.
       Di saat banyak tenaga kerja yang menganggur akibat terkena PHK, maka sektor usaha kecil dan menengah menjadi salah satu solusi yang paling baik. Banyak korban PHK yang lantas membuka usaha sendiri kecil-kecilan, misalnya menggunakan modal uang pesangon yang diterima. Terlepas dari banyak kekurangannya, realitasnya jenis usaha ini mampu menghinbdarkan seseorang tidak terjebak jadi  pengangguran.  
       Namun kenyataannya, banyak pula sektor UKM yang kondisinya kembang-kempis, atau ”bagai mati segan hidup tak mau”. Usaha yang dijalankan sulit bersaing dengan sektor ekonomi makro, yang banyak didominasi para pengusaha dengan modal raksasa. Di saat pengusaha yang bermodal besar menurunkan harga jual produknya ke titik terendah, biasanya lantas banyak sektor usaha kecil yang gulung tikar karena kalah bersaing dalam memperebutkan konsumen. 
            Walau UKM merupakan salah satu sektor pengaman agar terhindar dari pengangguran, namun sektor usaha ini pada umumnya relatif lemah dari sisi manajemen bisnis. Ada sejumlah kelemahan, yang selama ini membelit kehidupan sektor UKM. Dalam kaitan ini, minimal ada lima kelemahan terkait kondisi UKM secara umum.
Lima kelemahan tersebut masing-masing yakni:
1. Kelemahan dalam mengakses pasar. Kelemahan akses pasar selama ini merupakan kelemahan yang dialami hampir sebagian besar UKM di tanah air. Hal ini karena mereka rata-rata kurang memiliki informasi yang lengkap dan rinci, terkait pasar mana saja yang bisa ditembus oleh produk yang dihasilkan.
2. Kelemahan dalam akses teknologi. Akses teknologi merupakan salah satu kelemahan sektor UKM. Kondisi ini tentu merupakan salah satu hambatan, demi memajukan sektor UKM. Padahal jika produk UKM sudah mendapat sentuhan teknologi, tentu akan mudah diterima pasar. 
3. Kelemahan dalam akses modal. Akses modal juga merupakan kelemahan UKM. Ini amat ironis, karena belakangan ini banyak bank berhamburan dana namun kurang melirik UKM. 
4. Kelemahan dalam manajemen keuangan. Kalangan UKM rata-rata tidak memiliki pola majemen keuangan yang rapi. Sehingga kadang sulit membedakan antara keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga.
5. Kelemahan SDM. SDM yang mendukung UKM rata-rata memang relatif kurang handal. Dalam kondisi inilah pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga sosial yang lain hendaknya bisa ikut berperan meningkatkan SDM yang mendukung UKM.         
       Meski demikian, di tengah banyaknya UKM yang terkendala sejumlah kelemahan, ternyata banyak pula UKM yang memiliki prospek bagus dalam perkembangan bisnis. Mereka ini kadang diusebut UKM unggulan, karena di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda, justru beberapa UKM mampu berkembang pesat. Bakso Cak Man di sektor kuliner , atau Bandung Sport di sektor toko fashion misalnya, merupakan contoh di antara sederet UKM yang memiliki prospek bagus di masa mendatang.

Read Full Post »

Mendidik Anak Gemar Wirausaha

Profesi sebagai wirausahawan, selama ini belum begitu memikat bagi generasi muda. Para remaja saat ditanya apa cita-citanya, kebanyakan menjawab ingin jadi insinyur atau dokter. Jarang sekali ada anak atau remaja, yang sejak awal bercita-cita ingin jadi seorang wirausahawan.  

Kondisi ini  karena kancah wirausaha atau dunia bisnis, masih jauh dari kehidupan anak-anak atau remaja. Mereka tidak tahu atau belum tahu indahnya kancah wirausaha, sebab selama ini lingkungan yang ada memang kurang kondusif. Mereka berangan-angan jadi dokter atau insinyur, karena profesi tersebut dinilai sebagai profesi hebat dan menjanjikan imbalan finansial yang melimpah. Karena itu wajar saja jika generasi muda jarang sekali yang memiliki cita-cita akan terjun ke blantika wirausaha.  

Padahal apa bila tahu bagaimana indahnya berwirausaha, maka dia akan lebih memilih jadi wirausahawan dibanding menekuni profesi lain. Lebih lagi dalam kondisi ekonomi serba sulit sekarang ini. Di saat kondisi ekonomi di negeri ini terpuruk, banyak profesi yang semula mampu mendatangkan finansial bagus ternyata dalam perkembangannya justru bagai telur di ujung tanduk.  Sebab jadi karyawan di sebuah instansi, ternyata belakangan ini rawan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bahkan instansi yang selama ini masuk kategori “basah” karena gaji karyawannya rata-rata tinggi, yang semula dikira sangat mantap, juga tetap rentan PHK.  Wirausaha adalah satu-satunya profesi mandiri, yang kenal terhadap ancaman PHK. Mereka yang terjun di sektor wirausaha, sepanjang dia mau bias menekuninya terus, tidak ada yang bisa menjatuhkan vonis PHK kecuali dirinya sendiri.

Sebab seorang wirausahawan bias bertindak sebagai karyawan sekaligus manajer dan owner bagi usahanya, sehingga maju atau mundurnya usaha tersebut tergantung dari kesungguhan yang bersangkutan. Jika kancah bisnis tersebut dijalani dengan tekun, kerja keras, penuh semangat dan tidak  mudah putus asa, niscaya usaha tersebut pasti akan meraih  sukses.  

Melihat prospek dunia wirausaha, maka sudah saatnya anak-anak atau para remaja kita latih menjadi wirausahawan. Jiwa entrepreneur perlu kita tanamkan sejak usia dini, agar mereka kelak bisa menjadi wirausahawan yang handal. Jika sejak dini anak-anak sudah dilatih wirausaha, maka setelah dewasa kelak dia akan mampu menjadi seorang wirausahawan yang tegar, disiplin, pantang menyerah dan sukses dalam mengembangkan usaha.

Jiwa wirausaha inilah yang perlu kita tanamkan sejak dini, terhadap anak-anak kita yang nota bene generasi muda.  Untuk terjun ke kancah wirausaha sebetulnya tidak perlu menunggu seseorang sudah usia dewasa. Sejak masa kanak-kanak atau remaja, seyogyanya sudah mulai belajar menekuni wirausaha.

Hal ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Pada usia 8 tahun  Muhammad sudah berkiprah menggembalakan kambing. Lepas dari profesi sebagai penggembala kambing, Nabi Muhammad lantas terjun sebagai pengusaha yang selalu jujur dan amanah. Bahkan pada saat usianya baru 12 tahun, Muhammad sudah mampu berdagang ke manca Negara yakni ke negeri Syiria. Dalam berdagang nabi selalu jujur. Karena kejujuran nabi, beliau lantas diberi gelar Al-Amin atau orang yang patut dipercaya.                   

Para orangtua yang sudah terjun di kancah wirausaha, sebaiknya melibatkan anak-anaknya dalam mengurusi usaha. Hal ini sebagai pengkaderan agar generasi muda kita kelak akan mampu meniti rumitnya dunia bisnis dengan baik. Agar anak-anak bersemangat untuk membantu bisnis yang dijalankan orangtua, mereka juga harus diberi imbalan layak berupa gaji. Dengan imbalan gaji yang diperoleh dari membantu orantua, niscaya anak-anak akan makin semangat ikut berlatih bisnis.

Read Full Post »

Older Posts »