Feeds:
Pos
Komentar

Oleh: Drs. H. Muhammad Zen

Sejak masa reformasi bergulir, kebebasan pers di Indonesia mulai tergelar. Ironisnya, bersamaan dengan hadirnya kebebasan pers, juga merebak banyak sekali “Wartawan Gadungan” atau “wartawan  nakal” yang ulahnya justru merepotkan masyarakat. Aksi mereka ini amat meresahkan pejabat dan pengusaha, karena sering diperas. Selain itu munculnya oknum wartawan nakal juga mencemarkan nama baik  wartawan profesional.

Untuk mengantisipasi merebaknya ulah oknum wartawan nakal, saya sejak akhir Oktober 2009 lalu meluncurkan buku berjudul “Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal”. Buku setebal 200-an halaman ini saya tulis sendiri dan saya terbitkan sendiri (pakai bendera: Cakrawala Media Publisher). Buku ini hasil infestigasi dan olah strategi, karena saya sudah lebih dari 27 tahun berkecimpung di dunia wartawan (pernah jadi wartawan koran mingguan di Yogya, koran harian nasional di Surabaya, majalah wanita di Jakarta, serta kini jadi wartawan TV nasional untuk wilayah Malang).

Untuk sementara buku ini belum masuk toko buku, tetapi peredarannya baru di lingkup seminar / lokakarya, serta sales langsung dari kantor ke kantor. Lokakarya digelar di Malang Jatim(Oktober 2009) dan Pekalongan Jateng (Desember 2009). Kemudian yang akan datang, 11 Februari nanti di Brebes Jateng, serta 25 Februari di Cirebon Jabar. Sedang sales dari kantor ke kantor dilakukan sejumlah sahabat saya di Bali, Kudus dan Bandung.

Meski demikian, buku tersebut kini sudah memasuki cetakan kedua, karena cukup laris manis di pasaran. Mengapa belum masuk toko buku ? Saya sebetulnya punya jaringan toko buku di berbagai daerah di Indonesia, juga punya jaringan dengan distributor buku. Namun sementara pemasaran via toko  buku dipending dulu karena kembalinya dana (modal untuk biaya cetak ulang) agak lama. Jika lewat seminar / lokakarya atau sales ke kantor-kantor, pemasukan dananya cepat, bisa untuk segera cetak ulang. Tentu saja yang jadi panitia seminar / sales ke kantor-kantor bukan saya, tapi sejumlah sahabat saya yang bertebaran di berbagai pelosok Indonesia.

Para  panitia seminar biasanya lumayan untungnya, karena tiket dijual cukup tinggi tapi laris. Buku yang dijajakan ke kantor, juga dijual mahal dan laris. Mengapa ? Karena sangat banyak pejabat atau pengusaha yang pernah dikerjain oleh oknum wartawan nakal. Karena itu saat ditawari ikut seminar dengan topik mengatasi wartawan nakal, atau ditawari bukunya saja, mereka banyak yang langsung ok.

Tertarik menggelar seminar bertema “Strategi Mengatasi Oknum Wartawan Nakal” atau mengedarkan bukunya saja di daerah Anda ? Boleh saja. Silahkan kontak saya di 08123383495 (Muhammad Zen).

Salam damai dari Kota Apel Malang Jawa Timur

Oleh: Drs. H. Muhammad Zen

Terjun di Self Publishing alias menerbitkan buku karya sendiri, sering didambakan banyak penulis. Banyak keunggulan jika penulis bersedia serta “berani” menerbitkan karyanya sendiri.

Namun terjun di self publishing juga tidak mudah. Penulis harus benar-benar mampu membuat buku yang layak pasar, jika memang ingin berhasil dalam self publishing. Sebab jika buku itu kurang layak pasar, meski mungkin menurut kita bagus, maka penjualan di pasaran jadi seret dan modal yang sudah kita keluarkan akan sulit kembali.

Agar bisa membuat buku yang layak pasar, kadang-kadang kita memang harus mengorbankan idealisme. Kalau kita menuruti idealisme, mungkin menurut kita sangat bagus tetapi ternyata di pasaran masyarakat jarang tertarik dengan buku itu. Padahal jika buku gagal di pasar, kita sendiri yang rugi besar, karena semua permodalan kita yang menanggung.

Sebaliknya jika buku layak pasar, keuntungan self publishing cukup menggiurkan.  Karena buku baru terjual antara 25 hingga 30 persen, kita sudah BEP alias sudah kembali modal. Jadi jika buku itu laris, bisa diterima pasar, kancah self publishing ini memiliki prospek bagus.

Pengalaman saya sudah 2 buku yang saya terbitkan sendiri:

Yang pertama berjudul : Kiat Sukses Mengikuti Sertifikasi Guru. Buku ini laris manis karena saat buku awal terbit (akhir 2007) gairah guru untuk ikut sertifikasi sangat luar biasa. Kini buku tersebut sudah cetakan ketiga.

Kedua berjudul: Jurus Ampuh Mengatasi Oknum Wartawan Nakal. Buku ini terbit Oktober 2009 dan kini sudah memasuki cetakan kedua.  Padahal saya belum memasukkan buku ini ke toko buku, pemasarannya sementara dalam bentuk kerjasama dengan EO Seminar  dan penjualan langsung via sales khusus. Sales khusus baru menggarap Malang, Bali dan Bandung. Sedangkan seminar baru di Malang Jatim dan Pekalongan Jateng. 

 Tapi bulan Pebruari 2010 nanti, saya ceramah di Pasuruan Jatim, Brebes Jateng dan Cirebon Jabar. Saat ini buku cetakan pertama tinggal 300 eks (semula cetak 1.000 eks), dan cetakan kedua saya cetak 2.000 eks. Mengapa berani cetak banyak ? Karena peserta seminar di Brebes saja rencananya di atas seribu orang (dibagi dalam 3 hari).  Seminar temanya mirip judul buku saya, tentang Strategi mengatasi wartawan nakal, biaya seminar agak lumayan mahal tapi semua peserta dapat buku tulisan saya.

Buku cukup laris….alhamdulillah

SELF PUBLISHING, SIAPA TAKUT ?

       Bagi seorang penulis, mampu menerbitkan buku karyanya sendiri, memang sering menjadi idaman. Banyak penulis yang bercita-cita bisa menerbitkan karyanya sendiri, daripada karya tulisan kita itu dilempar ke penerbit lain.

       Mengapa demikian ? Karena jika karya kita diterbitkan penerbit lain, posisi kita sebagai penulis seringkali dalam posisi yang “selalu kalah”. Semua kebijakan ditentukan penerbit, dan prosentase royalty bagi penulis juga “hanya”  rata-rata 10 % dari nilai buku yang terjual. Ini jika penerbit tersebut jujur dan amanah, namun bagaimana seandainya penerbit tersebut “nakalan” (misalnya cetak buku 3000 tapi dilkaporkan hanya 1000 ). Semua tergantung itikat baik pihak penerbit.

       Namun jika self publishing, alias kita menerbitkan karya kita sendiri, maka semua keuntungan dari penjualan buku kita yang menikmatinya. Jika buku tersebut tidak laku di pasaran, memang resikonya kita yang rugi karena biaya cetak dll kita yang nanggung. Namun jika laris manis di pasaran, maka kita juga yang untung besar.

       Berapa biaya yang dibutuhkan untuk self publishing ? Sangat relatif modal yang kita butuhkan. Namun untuk tahap awal, dengan cetak buku yang tidak terlalu tebal, kisaran 140-200 halaman, dengan omset cetakan 1000 eksemplar, dibutuhkan dana tak lebih dari Rp 10 juta.

        Keuntungannya ? Lumayan juga, karena buku baru terjual 30 persen saja misalnya,  sudah kembali modal.

       Jadi untuk terjun di SELF PUBLISHING ? SIAPA TAKUT. 

      Mari Sahabat

Blog saya ini memang terasa lama tidak saya isi.

Mohon maaf mulai akhir Oktober hingga Desember 2009 kemarin, saya bersama istri menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Sebelum berangkat juga sibuk dengan kegiatan manasik dll sehingga praktis blog ini jarang saya tengok.

Selain itu menjelang berangkat haji saya juga ada kegiatan lokakarya, saya tampil sebagai nara sumber. Karena kegiatan tersebut di bawah PWI Malang maka saya juga harus banyak terjun, mengingat saya sebagai Wakil Ketua PWI Malang bidang pendidikan dan kesra. Alhamdulillah lokakarya sukses.

Lokakarya di Hotel Pelangi Malang berlangsung 17 Oktober 2009 (sepekan menjelang saya berangkat haji). Setelah saya pulang haji, tepatnya 17 Desember 2009, saya kembali tampil dalam lokakarya di Pekalongan Jawa Tengah. Peserta cukup banyak sekitar 150 lebih meski harga cukup mahal yakni Rp 350 per-peserta.

Bulan Januari 2010 ini rencannya saya tampil di hadapan guru-guru, yang digagas teman-teman Pemuda Muhammadiyah Malang. Rencana tanggal 10 dan 12 Januari 2010.  

Bulan Februari depan rencanannya saya lokakarya di Brebes Jawa Tengah dan Cirebon Jawa Barat. Mohon doanya semoga semua sukses.

Meski agak padat acaranya, namun saya tetap ingin rutin menulis di blog kesayangan ini. Sebab jika lama tidak nengok, terasa kangen nulis di blog.

Sukses Selalu untuk semua sahabat

Oleh: Muhammad Zen

Jum’at malam kemarin, saya baru saja menghadiri acara Recognition di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Luar biasa, meski acara tersebut membayar Rp 35.000 perorang namun  dihadiri ribuan orang. Sekitar 5.000 orang dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan berbagai propinsi di Indonesia, hadir dalam acara tersebut.

 

Acara ini sebetulnya diadakan oleh K-Link, sebuah perusahaan yang memproduksi suplemen untuk pengobatan cara herbal atau alami. Mengapa ribuan orang menyemparkan hadir dalam acara tersebut ? Inilah yang mengherankan.

 

Saya bersama istri yang ikut di acara tersebut,  awalnya juga heran. Ditinjau dari psikologi massa, kira-kira apa yang menyebabkan ribuan orang dari berbagai penjuru tanah air ikut hadir di acara tersebut ?

Bisa jadi yang menjadi faktor utama adalah “Kemanfaatan”. Mereka merasakan langsung manfaat setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis di K-Link. Baik manfaat segi kesehatan, maupun manfaat dalam pengembangan bisnis.

 

Sebab  dalam kesempatan tersebut, ditampilkan sejumlah orang yang sukses setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis K-Link. Banyak orang yang awalnya biasa-biasa saja (ada yang petani, penjual ikan bakar, tukang pijat urut, sales keramik dll) namun setelah ikut terjun sebagai mitra bisnis K-Link menjadi luar biasa, dengan penghasilan puluhan juta rupiah perbulan. Tampaknya banyak orang yang tertarik, awalnya orang biasa namun kemudian jadi luar biasa. Termasuk saya dan Anda tentunya.

OLEH : MUHAMMAD  ZEN

       Pada prinsipnya, usaha kecil menengah (UKM) merupakan salah satu sektor  yang cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia . Di saat krisis ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UKM mampu menjadi ”katup pengaman” agar tenaga kerja tidak sampai menganggur.
       Akibat merebaknya krisis global, dimana-mana muncul pemutusan hubungan kerja (PHK). Banyak pengusaha yang kalang kabut, karena di saat pusing mengurusi krisis global, justru sejumlah karyawan menuntut adanya kenaikan gaji. Akibatnya, dampak terburuk berupa PHK tak bisa terhindarkan lagi.
       Di saat banyak tenaga kerja yang menganggur akibat terkena PHK, maka sektor usaha kecil dan menengah menjadi salah satu solusi yang paling baik. Banyak korban PHK yang lantas membuka usaha sendiri kecil-kecilan, misalnya menggunakan modal uang pesangon yang diterima. Terlepas dari banyak kekurangannya, realitasnya jenis usaha ini mampu menghinbdarkan seseorang tidak terjebak jadi  pengangguran.  
       Namun kenyataannya, banyak pula sektor UKM yang kondisinya kembang-kempis, atau ”bagai mati segan hidup tak mau”. Usaha yang dijalankan sulit bersaing dengan sektor ekonomi makro, yang banyak didominasi para pengusaha dengan modal raksasa. Di saat pengusaha yang bermodal besar menurunkan harga jual produknya ke titik terendah, biasanya lantas banyak sektor usaha kecil yang gulung tikar karena kalah bersaing dalam memperebutkan konsumen. 
            Walau UKM merupakan salah satu sektor pengaman agar terhindar dari pengangguran, namun sektor usaha ini pada umumnya relatif lemah dari sisi manajemen bisnis. Ada sejumlah kelemahan, yang selama ini membelit kehidupan sektor UKM. Dalam kaitan ini, minimal ada lima kelemahan terkait kondisi UKM secara umum.
Lima kelemahan tersebut masing-masing yakni:
1. Kelemahan dalam mengakses pasar. Kelemahan akses pasar selama ini merupakan kelemahan yang dialami hampir sebagian besar UKM di tanah air. Hal ini karena mereka rata-rata kurang memiliki informasi yang lengkap dan rinci, terkait pasar mana saja yang bisa ditembus oleh produk yang dihasilkan.
2. Kelemahan dalam akses teknologi. Akses teknologi merupakan salah satu kelemahan sektor UKM. Kondisi ini tentu merupakan salah satu hambatan, demi memajukan sektor UKM. Padahal jika produk UKM sudah mendapat sentuhan teknologi, tentu akan mudah diterima pasar. 
3. Kelemahan dalam akses modal. Akses modal juga merupakan kelemahan UKM. Ini amat ironis, karena belakangan ini banyak bank berhamburan dana namun kurang melirik UKM. 
4. Kelemahan dalam manajemen keuangan. Kalangan UKM rata-rata tidak memiliki pola majemen keuangan yang rapi. Sehingga kadang sulit membedakan antara keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga.
5. Kelemahan SDM. SDM yang mendukung UKM rata-rata memang relatif kurang handal. Dalam kondisi inilah pemerintah, perguruan tinggi atau lembaga sosial yang lain hendaknya bisa ikut berperan meningkatkan SDM yang mendukung UKM.         
       Meski demikian, di tengah banyaknya UKM yang terkendala sejumlah kelemahan, ternyata banyak pula UKM yang memiliki prospek bagus dalam perkembangan bisnis. Mereka ini kadang diusebut UKM unggulan, karena di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda, justru beberapa UKM mampu berkembang pesat. Bakso Cak Man di sektor kuliner , atau Bandung Sport di sektor toko fashion misalnya, merupakan contoh di antara sederet UKM yang memiliki prospek bagus di masa mendatang.

Oleh : Muhammad Zen

Pada prinsipnya di semua organisasi, termasuk organisasi dalam bentuk perusahaan, senantiasa memiliki budaya tertentu. Sistem Budaya inilah yang sering disebut budaya organisasi. Dengan adanya budaya organisasi, kondisi kerja dan sistem yang ada jadi terbentuk secara spesifik, sesuai dengan filosofi perusahaan atau filosofi organisasi.

 

Realisasi budaya organisasi dalam sebuah unit usaha atau perusahaan ? Tidak sulit untuk menemukannya. Jika kita sedang berbelanja di sebuah Toko Swalayan yang menganut waralaba misalnya, kita akan menjumpai sejumlah karyawan atau karyawati yang memiliki sikap budaya yang nyaris sama. Pelayanan di Alfamaret atau Indomaret misalnya, di manapun lokasinya, kita hampir selalu menemui tipikal pelayanan yang relatif sama.

 

Kondisi ini terjadi karena memang toko swalayan yang dibangun dengan sistem waralaba tersebut, menerapkan sebuah sistem ”budaya organisasi” yang sama pada setiap cabang. Mereka memiliki standar pelayanan yang sama terhadap konsumen.  Sehingga di manapun karyawan tersebut ditempatkan, mereka akan mampu melayani konsumen dengan standar layanan yang sama pula.

 

Karena budaya organisasi ini kadang diterapkan tanpa ”roh” atau tanpa ”penjiwaan” kita kadang-kadang menyaksikan sikap karyawan yang seakan seperti mesin atau robot yang tanpa jiwa. 

Sebagai solusi, ada sejumlah langkah yang bisa kita upayakan untuk memperbaiki simtem budaya organisasi. Dengan langkah ini diharapkan budaya organisasi yang tergelar akan lebih “berjiwa” dan bisa dihayati segenap karyawan.

         

1. Budaya organisasi memiliki peran yang sangat penting, dalam upaya meningkatkan kinerja sebuah perusahaan atau unit usaha. Karena itu pihak pemilik lembaga usaha, hendaknya memperhatikan betul akan budaya organisasi yang berkembang di lingkungan karyawan.     

 

2. Pihak manajer atau pimpinan lembaga usaha, memiliki peran yang penting dalam upaya pengembangan budaya organisasi di lembaga tersebut. Maka seorang pimpinan yang memegang kendali lembaga usaha, perlu memiliki visi yang jelas agar mampu mewarnai kondisi budaya organisasi yang ada.

 

3. Budaya organisasi akan mampu dijalankan dengan baik oleh segenap karyawan di sebuah peruasahaan atau unit usaha, jika budaya tersebut dihayati segenap karyawan. Penghayatan atau penjiwaan para karyawan terhadap budaya organisasi dalam kondisi sehari-hari ini amat penting, agar penerapan budaya organisasi tidak hanya sebatas formalitas atau sekedar dihafal dibibir semata-mata, melainkan dijalankan dengan penuh penghayatan segenap karyawan.

 

Jika aktualisasi budaya organisasi ini tidak dibarengi dengan penjiwaan atau penghatan dari segenap karyawan, maka tingkah laku para karyawan hanya sekedar menirukan doktrin dari pimpinan manajemen, sehingga mirip sebuah robot yang tanpa penjiwaan.